
Jakarta, Kabarterdepan.com – Pengamat sosial yang dikenal sebagai Guru Gembul menyampaikan pandangan kritisnya terkait respons publik dan media terhadap kasus korupsi tambang yang melibatkan Harvey Moeis.
Ia menyoroti ketidakseimbangan perhatian, di mana publik dan media hanya memusatkan perhatian pada Harvey Moeis dan keluarganya, sementara aktor-aktor lain yang diduga terlibat dalam kejahatan ini luput dari sorotan. Guru Gembul menilai, sikap ini tidak hanya salah kaprah tetapi juga dapat mengaburkan akar persoalan dari kasus yang memiliki nilai kerugian negara hingga Rp300 triliun tersebut.
Guru Gembul memaparkan secara rinci sumber-sumber kerugian negara akibat aktivitas tambang ilegal yang melibatkan berbagai pihak.
Menurutnya, kerugian negara tidak hanya berasal dari aspek finansial tetapi juga dampak ekologis yang parah. Berikut rinciannya:
1. Kerugian akibat kerja sama sewa alat prosesing: Rp2.284.950.217.912.
2. Kerugian akibat pembayaran biji timah dari tambang ilegal: Rp26.648.625.701.519.
3. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang: Rp271.069.688.018.700.
“Kalau di total, semuanya mencapai Rp300 triliun. Angka ini bukan hanya soal uang, tetapi juga kerusakan lingkungan yang sangat besar. Hutan rusak, sungai tercemar, bahkan kehidupan ekosistem hancur,” ungkapnya.
Guru Gembul menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang ilegal bukan sesuatu yang tersembunyi.
“Korupsi tambang itu demonstratif, dampaknya jelas terlihat. Jalan rusak akibat truk dan alat berat, hutan yang dulunya lebat jadi gundul, hingga sungai yang tidak lagi bersih—semuanya terlihat oleh masyarakat, aparat, hingga pejabat di sekitar wilayah itu. Jadi, tidak mungkin kasus sebesar ini hanya melibatkan satu atau dua orang,” tegasnya.
Guru Gembul menjelaskan bahwa Harvey Moeis, meski terlibat, bukanlah tokoh utama dalam kejahatan ini. Ia menyebut Harvey sebagai “operator,” bukan pengambil keputusan atau pemegang kendali utama.
“Harvey Moeis bukan komisaris, bukan direksi, bukan pemilik perusahaan, bahkan bukan staf yang memiliki kewenangan strategis. Dia hanya membantu temannya melakukan korupsi. Kalau di kasus narkoba, posisinya mirip kurir,” katanya.
Menurutnya, publik dan media terlalu fokus pada Harvey Moeis dan istrinya, Sandria Dewi, sehingga melupakan aktor-aktor besar di balik skandal ini.
“Kenapa netizen malah sibuk membully Harvey dan istrinya di media sosial? Bukannya mencoba memahami siapa saja pihak-pihak lain yang sebenarnya memiliki peran lebih besar dalam kasus ini,” kritik Guru Gembul.
Guru Gembul juga mempertanyakan kinerja aparat penegak hukum dan media dalam membongkar skandal ini. Ia mendesak agar penyidik lebih mendalami kasus ini, terutama untuk mengungkap aktor-aktor besar di balik kerugian negara yang mencapai ratusan triliun rupiah.
“Kenapa penyidik hanya berhenti pada Harvey Moeis? Apakah mereka sudah menanyakan siapa saja yang terlibat? Bagaimana dengan komisaris, pemilik perusahaan, atau pejabat yang memiliki wewenang di wilayah tambang tersebut? Tidak mungkin korupsi sebesar ini hanya dilakukan satu orang,” ujarnya.
Ia juga meminta media besar seperti Kompas, Detik, dan Tribun untuk lebih berani dalam mengupas kasus ini secara menyeluruh.
“Media seharusnya membantu masyarakat memahami akar masalah. Jangan hanya memberitakan satu sisi. Coba telusuri lebih dalam, siapa saja aktor-aktor besar yang sebenarnya berada di belakang kasus ini,” paparnya.
Guru Gembul juga menyoroti peran pejabat lokal dalam aktivitas tambang ilegal.
“Bagaimana mungkin ada tambang ilegal, alat berat hilir mudik, hutan ditebang, dan jalan rusak tanpa sepengetahuan gubernur, bupati, atau lurah setempat? Aparat keamanan di wilayah itu juga perlu diperiksa, apakah mereka membiarkan, mendukung, atau bahkan terlibat,” ungkapnya.
Selain kerugian finansial, Guru Gembul menekankan pentingnya perhatian pada kerusakan ekologis akibat aktivitas tambang ilegal.
“Hutan yang gundul, sungai yang tercemar, dan satwa yang hilang adalah kerugian yang tidak bisa dihitung dengan uang. Ini adalah warisan buruk yang akan kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Menurut Guru Gembul, dampak ekologis ini seharusnya menjadi perhatian utama media dan aparat hukum. Ia menilai bahwa kejahatan tambang tidak hanya merugikan negara secara finansial tetapi juga menghancurkan lingkungan hidup secara permanen.
Melalui pernyataannya, Guru Gembul menyerukan agar publik, media, dan aparat penegak hukum fokus pada akar masalah dan tidak hanya mencari kambing hitam.
“Ini bukan soal membela Harvey Moeis, tetapi tentang membongkar siapa saja yang terlibat. Jangan sampai ada aktor-aktor besar yang lolos begitu saja,” ujarnya.
Ia berharap agar kasus ini menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pengawasan terhadap aktivitas tambang di Indonesia.
“Korupsi tambang adalah kejahatan besar yang melibatkan banyak pihak. Kita harus bersatu untuk memastikan keadilan ditegakkan, tidak hanya bagi satu orang, tetapi bagi semua yang terlibat,” pungkasnya. (Firda*)
