Produsen Tahu di Mojokerto Berjuang Tahan Harga Imbas Kenaikan Kedelai Impor

Avatar of Redaksi
IMG 20250103 WA0033 11zon scaled
Potret produksi tahu di UD Sari Agung (Inggrid / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Kenaikan harga kedelai impor hingga Rp9.000 per kilogram memberikan dampak signifikan terhadap para produsen tahu dan tempe di Mojokerto. Salah satu produsen yang turut merasakan imbasnya adalah Pabrik Tahu UD Sari Agung yang berlokasi di Losari Timur, Gedeg, Mojokerto.

Hari, pengelola operasional pabrik tersebut, menjelaskan bahwa ketergantungan pada kedelai impor terjadi karena minimnya petani lokal yang masih menanam kedelai.

“Ya, untuk sekarang karena lokal ini banyak petaninya sudah nggak nanem,” jelasnya saat ditemui, Jumat (3/1/2025).

Kenaikan harga kedelai ini memberikan tekanan besar terhadap struktur biaya produksi tahu. Hari menyebutkan bahwa selain bahan baku, biaya pekerja juga turut mengalami kenaikan, apalagi di awal tahun yang seringkali menjadi momen penyesuaian harga.

“Kenaikan pasti. Jadi kalau HPP (Harga Pokok Produksi), itu kan barang bahan baku sama pekerja langsung. Nah, apalagi sekarang ini tahun baru 2025 otomatis kita ya sebagian sudah mulai naik, bagian produksi kan sudah naik setiap tahun. Ibaratnya untuk orang naik, bahan kalau dinaikkan berarti double, naik semua,” paparnya.

Meski biaya produksi melonjak, UD Sari Agung memilih untuk menahan kenaikan harga jual tahu.

“Sementara ini tidak, kita tahan, di harga tahu yang variatif,” tambahnya.

Di sisi lain, reaksi pelanggan terhadap harga tahu juga terpecah. Hari menjelaskan bahwa meski ada konsumen yang tetap memilih produk berkualitas, daya beli masyarakat secara umum mengalami penurunan sejak tahun 2024.

“Pasti konsumen itu terbelah dua, milih yang ada kualitasnya. Harga beda, kan bawa kualitas. Tergantung konsumen. Kalau saya sini itu job order, terus terang kita nggak bisa memastikan. Jadi saya itu bergantung ke pasar. Punya agen, dipasang. Dan yang pasti semenjak tahun 2024, usaha ini kan agak sepi semua ya, daya beli turun jadi yang ngaruh banget,” tegasnya.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi produsen tahu untuk terus bertahan di tengah naiknya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page