Wabah PMK Menyerang 420 ekor Sapi di Mojokerto

Avatar of Redaksi
Kondisi sapi warga yang terjangkit penyakit PMK di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Kamis (2/1/2025) sore (Andy / Kabarterdepan.com)
Kondisi sapi warga yang terjangkit penyakit PMK di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Kamis (2/1/2025) sore (Andy / Kabarterdepan.com)

Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang 420 ekor sapi di Kabupaten Mojokerto.

PMK yang kembali merebak di Kabupaten Mojokerto, mengakibatkan beberapa sapi milik warga di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto terserang penyakit, bahkan ada yang mati.

Beberapa hewan ternak warga yang terserang penyakit tersebut mengeluarkan lendir dari mulutnya, selain itu juga pada lidah muncul jamur lantaran sehingga sapi tak mau makan.

Salah satu pemilik sapi, Sujik warga Desa Madureso Kecamatan Dawarblandong, mengatakan, dari 7 ekor sapi miliknya terdapat tiga ekor yang terkena penyakit PMK.

“Awalnya satu, terus berkembang jadi 3 ekor sapi. Kalau di tempat lain juga banyak yang terserang bahkan ada yang mati,” ungkapnya, Kamis (2/1/2025) sore.

Ia menambahkan, di daerah yang lain terdapat beberapa hewan ternak yang mati dan harus dilakukan potong paksa karena kondisinya cukup parah dan tidak mau makan.

“Harus ada penanganan intens pengobatan dari petugas dinas terkait,” terangnya.

Sujik pun terus berupaya memberikan perhatian khusus terhadap hewan ternaknya itu dengan memberikan beberapa ramuan khusus agar sapi miliknya tetap kuat meskipun terserang penyakit.

“Harus disuapin harus dikasih ramuan dan jamu segala macam untuk mempertahankan imun dari sapi itu sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, Tutik Suryaningdyah, menjelaskan, di Kabupaten Mojokerto terdapat kurang lebih 420 ekor sapi.

“Tetapi sebagin besar sudah bisa disembuhkan,” katanya.

Pihaknya juga terus melakukan pemantauan terhadap para peternak dan melakukan sosialisasi terhadap maraknya penyakit menular tersebut.

“Memberikan pengobatan berupa suntik vitamin, melakukan komunikasi edukasi kepada poeternak dan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page