Banjir di Sooko Mojokerto Surut, Kerusakan Rumah dan Sekolah Capai Titik Parah

Avatar of Redaksi
IMG 20241216 WA0076
Potret warga yang sedang bergotong royong membersihkan rumahnya yang kotor karena banjir. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Banjir yang melanda Desa Tempuran dan Desa Ngingasrembyong di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, selama sepekan lebih, akhirnya surut pada Senin (16/12/2024).

Warga yang sempat mengungsi kini mulai kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa material yang terbawa banjir. Meskipun air sudah surut, beberapa rumah dengan permukaan lebih rendah masih tergenang hingga sekitar 20 cm.

Kondisi jalan di Desa Tempuran sudah bebas dari genangan, namun fasilitas umum seperti balai desa, sekolah, dan areal persawahan masih terendam air. Aktivitas di kantor desa dan lembaga pendidikan pun belum kembali normal karena listrik padam, dan halaman masih digenangi air.

Warga terlihat sibuk membersihkan rumah dan menata ulang barang-barang mereka, sementara relawan dari BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mojokerto masih menyuplai air bersih serta membantu membersihkan sampah di beberapa lokasi.

Menurut Mulyono (50), warga Dusun Bekucuk, material lumpur yang terbawa banjir memenuhi rumahnya.

“Air mulai surut total sejak Minggu kemarin, jadi saya sudah kembali ke rumah sejak sore. Ketinggian air sebelumnya hampir mencapai dua meter, dan baru hari ini listrik menyala,” ujarnya.

Namun, Mulyono mengeluhkan air dari pompa masih bercampur dengan sisa banjir, yang menyebabkan gatal-gatal pada kulit.

“Banjir kali ini jauh lebih parah dibanding tahun sebelumnya,” tambahnya.

Di Desa Ngingasrembyong, banjir yang terjadi sejak Sabtu (7/12/2024) berdampak pada 753 rumah dengan total 1.367 jiwa. Daerah terdampak mencakup Dusun Pesanggrahan, Perum Bhinneka, Dusun Pendowo, Dusun Sidonganti, dan Perum D Garden City. Hingga kini, warga masih membersihkan rumah dari lumpur dan barang-barang yang rusak akibat terendam banjir.

Prasetyo (55), warga Desa Tempuran, mengaku rumahnya yang terendam banjir hingga 1,5 meter mengalami kerusakan berat.

“Kasur, kursi, meja, dan pakaian banyak yang rusak. Saya harus mengungsi ke posko masjid Bekucuk selama banjir berlangsung,” ungkapnya.

Ia juga menyatakan banjir tahun ini menjadi yang terparah dalam beberapa tahun terakhir, karena biasanya surut hanya dalam 3-4 hari, tetapi kali ini membutuhkan waktu hingga 10 hari. Akibatnya, Prasetyo yang bekerja sebagai buruh tani mengalami kerugian jutaan rupiah dan berharap ada bantuan untuk meringankan beban warga terdampak.

Di SDN Tempuran, genangan air setinggi 40-60 cm masih menutupi halaman sekolah, sehingga satu unit mobil penyedot banjir dari BPBD Mojokerto dikerahkan ke lokasi. Sukamto, Danru Damkar BPBD Mojokerto, menjelaskan bahwa air yang menggenangi halaman berasal dari lapangan belakang sekolah dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk benar-benar surut.

“Kami menggunakan pompa mobil sedot banjir dan membuang air ke saluran sungai Jombok. Diperlukan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk mengatasi genangan ini,” jelasnya.

Meski banjir sudah surut, dampaknya masih dirasakan oleh warga. Selain kerusakan properti, aktivitas di desa belum sepenuhnya pulih, terutama di fasilitas umum dan sekolah. Warga berharap pemerintah memberikan bantuan pascabanjir untuk meringankan beban mereka. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page