
Palembang, Kabarterdepan.com – Kasus penganiayaan terhadap seorang dokter koas bernama Luthfi yang juga merupakan chief koas di Universitas Sriwijaya, menjadi viral di media sosial.
Menurut kronologi yang beredar, permasalahan ini bermula dari ketidakpuasan salah satu mahasiswa koas, Lady, terhadap jadwal piket yang telah diatur oleh Luthfi. Korban disebut sudah tiga kali mengganti jadwal tersebut demi menyesuaikan kebutuhan Lady.
Dalam video berdurasi 1 menit 6 detik yang diunggah oleh akun X @satria_gigin, terlihat seorang pria berbaju merah memukuli korban yang mengenakan seragam jaga. Seorang wanita paruh baya, yang diduga mama Lady, serta seorang dokter perempuan lainnya, tampak berusaha melerai.
Insiden terjadi saat korban pulang dari jadwal jaga sekitar pukul 16.00 WIB. Ia dipanggil oleh mama Lady untuk membahas jadwal tersebut di lantai 2 sebuah tempat makan. Namun, pertemuan itu berujung pada ketegangan ketika mama Lady merasa bahwa Luthfi dan dua dokter koas lainnya tidak menghormatinya.
Situasi semakin memanas ketika sopir mama Lady, yang turut hadir dalam pertemuan, merasa tersinggung. Akibatnya, sopir tersebut meluapkan emosinya dengan melakukan tindakan penganiayaan, seperti terlihat dalam video yang viral di media sosial.
Dugaan sementara menyebut bahwa insiden ini dipicu ketidaksenangan orang tua Lady karena anaknya dijadwalkan piket pada masa libur panjang Natal dan Tahun Baru. Akibat penganiayaan tersebut, Luthfi mengalami luka memar di wajah, mata merah, dan kerusakan pada giginya. Saat ini, ia tengah dirawat di RS Bhayangkara Muhamad Hasan Palembang untuk pemulihan.
Korban telah melakukan visum dan melaporkan kejadian ini ke SPKT Polda Sumsel. Polisi kini tengah menyelidiki kasus tersebut.
Menanggapi kejadian penganiayaan dokter koas tersebut, seorang dosen Fakultas Kedokteran ikut berkomentar.
“Saya yg juga sebagai dosen FK, sudah memberi nilai minus untuk mahasiswi ini. Sesama rekan saja bisa sampai mencederai, apalagi konon nanti menghadapi pasien, masyarakat banyak. Soal jaga malam adalah urusan pendidikan, sangat tidak pada tempatnya sampai ikut campur orang tua, apalagi sampai pakai main pukul, pakai centeng pula.” Tulis sang dosen FK dikutip dari akunnya, @DrEvaChaniago.
“Sehingga kenapa sy bilang kasihan anaknya, karena andaikata si orang tua ini bijak, tentu tdk akan masuk ke dalam ranah yang bukan urusannya. Cukuplah sbg orang tua yang baik. Mendengarkan curhatan anak. Dan memberikan nasihat bagaimana mengatasi masalah pertemanan. Akibat dari perbuatan orang tuanya tsb tentu kalau kelak dia masuk ppds yg kebetulan para dosennya tahu history dia tentu akan menjadi pertimbangan khusus.” Tulis dosen Kedokteran yang lain dikutip dari akunnya, @akhadam77.
Warganet juga ikut memberikan komentarnya, tak sedikit yang menyayangkan insiden pemukulan tersebut.
@Ellaasariii: Kalo mau sabtu minggu libur, kerja kantoran aja mbak jngn jd nakes
@aabp_16: Lady lo ga cocok jadi dokter, baru perkara koas gini doang udah ngadu ke emak bawa kang pukul, lo kalo ga siap tenaga ama mental gausah jadi dokter!! Udah tau kerjaan dokter itu berat.
@hannajoe20: Disini yg gak bijak Mama nya. Anak curhat tentang masalah itu wajar, mau berusia berapapun. Yg belagu mamanya bawa pengawal preman untuk selesai kan masalah anaknya. Anak dewasa klo tdk bisa selesai kan masalahnya sendiri berarti dia ada masalah dg kejiwaanya nya.
@robinszon: Kalo di center pendidikan tempat saya, koas tipe² seperti koas Lady sudah auto GA LULUS sih. Kena sanksi attitude, dan di cap sama semua Konsulen² RS. Sebenarnya masalah jadwal bisa dibicarain internal koas, gaperlu sampe orangluar tahu. Kedokteran keras boss. (Riris*)
