Banjir di Sooko Tak Kunjung Surut, Para Pengungsi Curhat Perabotan Rusak hingga Tidak Bisa Bekerja

Avatar of Redaksi
Banjir di Sooko
Potret warga Dusun Bekucuk di pengungsian akibat Banjir di Sooko

Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Banjir akibat luapan air sungai masih menggenangi tiga desa di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, yaitu Desa Tempuran, Desa Ngingasrembyong, dan Desa Mojoranu.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto bersama BPBD, Tagana, PMI, Polisi, TNI, Satpol PP telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan mendirikan posko pengungsian.

Di Desa Tempuran tercatat ada 2.623 jiwa sementara di Desa Ngingasrembyong ada 1.367 jiwa dengan total ada 3.990 jiwa yang terdampak banjir. Wilayah yang paling parah berada di Desa Tempuran khususnya Dusun Bekucuk, di mana genangan air di dalam rumah mencapai 80-110 cm, sementara genangan di jalan mencapai 60-70 cm. Fasilitas umum seperti SDN Tempuran, TK Pembina Tempuran, Balai Desa Tempuran, dan beberapa tempat ibadah juga ikut terendam.

Ketinggian air yang masih tergolong tinggi tersebut membuat warga tidak bisa beraktivitas dan harus dievakuasi ke tempat yang aman. Para warga telah dievakuasi untuk mengungsi di beberapa titik seperti di Balai Desa Ngingasrembyong namun sudah dipindahkan ke Masjid Miftahul Jannah, di Masjid Noor Al Islam, Balai Dusun Pendowo, Gedung Bulu Tangkis, dan Perum GPI.

Salah satu warga Dusun Bekucuk yang mengungsi di Masjid Miftahul Jannah, Winarsih, mengaku banjir yang merendam rumahnya mulai naik pada hari Minggu malam karena di hari-hari sebelumnya genangan air tidak begitu tinggi sehingga membuatnya langsung pergi mengungsi di mushola dan masjid di Dusun Bekucuk.

“Hari Kamis sama Jumat kan deras hujannya, itu nggak seberapa banjirnya terus Sabtu kan nggak hujan. Tapi Minggu pagi itu udah airnya belum sampai naik, malamnya itu langsung. Langsung mengungsi di mushola atau masjid di Bekucuk,” jelas Winarsih saat ditemui Kamis (12/12/2024).

Winarsih menuturkan jika kondisi banjir di Dusun Bekucuk saat ini airnya semakin bertambah tinggi, ia bersama warga yang lain usai mengungsi di mushola dievakuasi ke Balai Desa Ngingasrembyong.

Kondisi Terkini Banjir di Sooko

“Kondisi airnya masih bertambah. Habis tinggal di mushola, terus disuruh mengosongkan soalnya kan pemadaman. Pemadaman disuruh pindah ke Balai Desa Ngingasrembyong,” lanjut Winarsih.

Winarsih juga mengaku bantuan yang diberikan pemerintah sudah terpenuhi bahkan para pejabat dan orang-orang penting sudah berkunjung untuk menyalurkan bantuan secara langsung. Ia mengungkapkan keresahannya pada perabotan di rumahnya yang terendam air bahkan ia tidak bisa pergi bekerja sehingga tidak ada pemasukan.

“Alhamdulillah bantuannya sudah terpenuhi, banyak bantuan itu sudah alhamdulillah. Perasaannya selama ini ya takut di dalam rumah perabotan itu sudah kerendam semua, terus nggak kerja, nggak punya uang,” ungkap Winarsih.

Selain itu, Winarsih juga mengatakan bahwa baru kali ini Dusun Bekucuk direndam banjir yang tidak kunjung surut, pasalnya setiap tahun jika banjir hanya memakan waktu 3-5 hari untuk air surut.

Sementara menurut pengakuan pengungsi banjir di Sooko lain yang juga berasal dari Dusun Bekucuk, Asia Ulfa, jika kondisi banjir yang menggenangi rumahnya masih parah hingga seperut orang dewasa. Ia dievakuasi sejak Sabtu sampai hari Minggu karena mushola tempatnya mengungsi ikut terendam air yang semakin tinggi sehingga dipindah ke Balai Desa Ngingasrembyong kemudian dipindah lagi ke Masjid Miftahul Jannah karena di balai desa digunakan untuk tempat penyimpanan logistik.

“Parah banget rumahku segini (seperut). Minggu sore itu sudah dievakuasi tapi nggak ke sini (Masjid Miftahul Jannah) masih di desa sendiri yang mushola kan tinggi, terus pindah ke sini karena airnya tambah tinggi, ke Balai Desa Ngigas tapi disitu dibuat tempat barang-barang, jadi pindah tiga kali,” tutur Asia Ulfa.

Asia Ulfa menyebutkan, jika bantuan dari pemerintah yang didapatkan di antaranya selimut, baju, sikat gigi, handuk bahkan mainan anak-anak, buku, dan tas.

Selain itu, Asia Ulfa dan pengungsi lain meresahkan frekuensi hujan yang setiap hari turun dan tiada henti hingga tengah malam menyebabkan air terus meluap sampai masuk ke dalam rumah.

“Frekuensi hujannya itu kan terus ya biasanya kan kalau hujan deres langsung terang, ini nggak, terus sampai tengah malam masih gerimis akhirnya air masih meluap. Ini parah, biasanya rumah saya itu nggak sampai kayak gini, cuma di jalan aja, maksudnya cuma di samping rumah aja, kali ini sampai masuk rumah,” papar Asia Ulfa.

Asia Ulfa mengungkapkan luapan air sungai disebabkan karena ada dua tanggul yang Jebol di Jombang dan membawa eceng gondok. Menurutnya, pemerintah baru akan membersihkan tanaman liar yang hanyut dari Jombang tersebut jika sudah terjadi bencana.

“Ada dua sungai katanya yang jebol akhirnya meluapnya kesini airnya apalagi eceng gondok awal itu penuh sampai ke Timur. Kalau dibersihin itu ya kayak gini, kalau udah ada bencana baru dibersihin. Ada pengawasnya tapi cuma lihat-lihat aja ini tumbuhnya gimana, padahal parah,” tambah Asia Ulfa.

Camat Sooko, Masluchman, mengakui jika pihaknya memang terlambat membersihkan eceng gondok di aliran sungai Afvour Watudakon, Afvour Jombok, dan Afvour Balokereng sehingga menyumbat pintu air.

“Eceng gondoknya bukan agak lengah, agak terlambat membersihkannya. Sehingga, begitu kita ada banjir, eceng gondok itu tentu semua menyumbat di pintu-pintu air itu sama di dam sipon,” ujar Masluchman.

IMG 20241213 WA0025 scaled
Potret Camat Sooko meninjau kondisi banjir di Sooko, Masluchman (tengah)

Pihaknya telah berupaya untuk meminimalisir kondisi banjir di Sooko yang belum surut di tiga desa di Kecamatan Sooko dengan melakukan pemompaan air di dam sipon yang dibantu oleh PJT Desa Tirta Surabaya.

“Sehingga, kita bersama yang terkait, mulai dari PCT melaksanakan kerja sama secara massal yang bisa meminimalisir kondisi banjir yang ada. Kita akan melaksanakan kegiatan pemompaan di dam sipon. Kalau kebersihan sudah tinggal dipompa. Pompanya itu kita akan dibantu dari PJT, Desa Tirta Surabaya, tiga pompa. Tapi yang satu masih jalan, yang satu masih belum, masih dalam tahap persiapan operasional,” pungkas Masluchman. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page