Menengok Budidaya Lele Sistem Bioflok di Kota Mojokerto, Sekali Panen Tembus hingga 400 Kg

Avatar of Redaksi
Screenshot 20241209 115051
Budidaya lele sistem Bioflok yang ditekuni Pak Yon di Kota Mojokerto. (Steven/kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto, kabarterdepan.com – Budidaya lele menggunakan kolam bundar terpal dengan sistem bioflok telah menjadi inovasi peternak lele di Kota Mojokerto.

Inovasi ini dikembangkan oleh Suharyono, yang akrab disapa Pak Yon, bersama kelompok budidaya ikan Sido Makmur yang berlokasi di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto.

Budidaya lele bioflok ini mendapatkan dukungan dana sebesar Rp190 juta dari hibah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dana tersebut mencakup biaya untuk atap, terpal, dan kebutuhan lainnya.

“Bantuan hibah ini diberikan kepada Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Sido Makmur, meskipun lahan yang digunakan merupakan milik warga setempat.” ungkap Pak Yon, Sabtu (7/12/2024).

Dijelaskannya, budidaya lele dengan sistem bioflok ini dimulai pada 29 Juli 2024, menggunakan 8 kolam terpal berbentuk bulat, masing-masing berdiameter 4 meter. Kolam tersebut dirancang untuk menampung jumlah ikan yang optimal guna mendukung pertumbuhan lele secara maksimal.

Budidaya lele bioflok merupakan langkah inovatif yang diharapkan dapat membantu petani ikan di Mojokerto meningkatkan hasil panen mereka.

“Proyek bioflok ini adalah langkah inovatif untuk membantu petani ikan di Mojokerto,” ujar Pak Yon saat ditemui di lokasi budidayanya.

Bioflok merupakan metode budidaya ikan yang menggunakan kolam terpal dilengkapi dengan teknologi sirkulasi air. Sistem ini menjaga kualitas air dan lebih ramah lingkungan.

“Air bioflok tidak mudah kotor karena diberi kapur dolomit dan garam grosok, agar bau dari kolam juga dapat diminimalkan,” tambah Pak Yon.

Pemberian Kapur Dolomit dan garam grosok hanya diperlukan saat kolam pertama kali digunakan. Untuk budidaya berikutnya, perlakuan tersebut tidak lagi diperlukan. Jika tercium bau tidak sedap, air hanya perlu dibuang sedikit dan aerator tetap dinyalakan terus-menerus, agar oksigen terus tersedia.

Kelompok budidaya ini mengelola 8 kolam terpal yang produktif, dengan panen dilakukan setiap tiga bulan sekali. Hasil panen cukup melimpah, yaitu sekitar 300-400 kilogram lele setiap kali panen. Proses ini melibatkan 11 anggota dalam satu kelompok, meskipun hanya empat orang yang aktif bekerja setiap hari. Ikan lele hasil panen langsung dijual kepada bakul atau pelanggan langganan, yang mempermudah pemasaran.

Usaha ini berjalan secara gotong-royong, dengan hasil yang dinikmati bersama. Pendapatan dari hasil penjualan panen pertama ikan lele dikelola dan dibagi kepada para pekerja sebagai upah.

“Kami menjual lele dengan sistem keuntungan Rp1.000 per kilogram untuk yang memasarkan,” ujar Pak Yon.

“Sebenarnya, saat ini, panen pertama masih berlangsung dan belum selesaI, tetapi kelompok ini sudah merencanakan panen kedua dalam beberapa bulan ke depan,” tambahnya.

Pak Yon berharap budidaya lele bioflok ini dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar.

“Saya berharap usaha ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memanfaatkan teknologi sederhana dalam meningkatkan produktivitas perikanan,” pungkasnya. (Steven)

Responsive Images

You cannot copy content of this page