
Surabaya, Kabarterdepan.com – Viral, sebuah video beredar di Tiktok, orang tua pasien memprotes pihak RSUD Soewandhi, Surabaya karena memberikan obat yang menyebabkan anaknya mengeluarkan busa dan meninggal dunia.
Dalam video tersebut, tampak Ayah korban berinisial MA meluapkan emosinya dengan diiringi isak tangis di depan rumah sakit.
“Iki lo obat e (Ini loh obatnya), mari ngombe obat iki anakku langsung kejang, berbusa, (Habis minum obat ini anak saya langsung kejang dan mengeluarkan busa)” ucap MA sambil menunjukkan obat yang menyebabkan anaknya meninggal dunia.
Dari kronologi yang beredar, diketahui korban berinisial WM (7) mengalami sakit panas yang naik turun. Saat dibawa ke IGD RSUD Soewandhi, korban ditangani kemudian diberi obat. Berselang 30 menit, korban mengeluarkan busa dari mulutnya hingga nyawanya tak tertolong, Kamis (21/11/2024).
Menurut pengakuan MA, ia sudah memperingat dokter untuk tidak memberi anaknya obat karena anaknya tidak mau makan, namun dokter yang menangani tetap memberi obat dan mengatakan jika anaknya sudah makan roti.
Sementara, pihak RSUD Soewandhi merilis klarifikasi dalam sebuah video berdurasi 14 menit. Pihaknya menjelaskan kronologi sebenarnya dari kasus yang menimpa WM.
Dokter spesialis emergency medicine, dr Angela Puspita, menyampaikan korban datang ke IGD dengan kondisi yang menunjukkan adanya tanda-tanda mengalami dehidrasi (kekurangan cairan).
“Jadi pasien WM ini datang kemarin jam tujuh pagi, dengan keluhan demam, naik turun sudah satu bulan, mual muntah, batuk pilek, mencret, bibir kering seperti itu ya tanda-tanda dehidrasi,” paparnya dilansir dari akun tiktok @rsudsoewandhie.
Dr Angela mengatakan bahwa pihak keluarga korban setuju agar korban diopname untuk mendapatkan terapi yang bertujuan mengembalikan cairan tubuh korban agar tidak dehidrasi.
“Diinformasikan ini mau opname nggak? Setuju keluarga pasien dan tanda-tanda dehidrasi ada, derajatnya ringan sedang lalu mendapatkan terapi dari tim kami, cairan untuk merehidrasi, mengembalikan cairan, beberapa obat suntikan dan ada obat tablet oral (masuk perminum),” tambahnya.
Dr Angela mengonfirmasi bahwa tablet oral yang diberikan adalah vitamin B kompleks dan jumlahnya hanya satu.
Ia juga menuturkan bahwa pihaknya telah melarang keluarga korban untuk memberikan korban roti dan susu karena masih mencret.
“Sekitar jam sebelasan itu keluarga pasien sempat bertanya ke tim kami, menanyakan boleh nggak dikasih roti sama susu? Lalu tim saya mengatakan jangan dulu pakai susu, karena anaknya masih mencret, karena takutnya susu akan memperparah mencretnya,” tuturnya.
Meski begitu, dr Angela mengungkapkan jika pihak keluarga korban tetap memberikan roti kepada korban.
“Tapi sepengetahuan kami, keluarga tetap masih memberikan makan itu (roti) dan minumnya air mineral lalu sekitar 15 menit kemudian, perawat mendapatkan informasi dari keluarga kok pasien tiba-tiba sesak,” lanjutnya.
Mengetahui kondisi gawat darurat tersebut, dr Angela bersama dokter jaga dan perawat melakukan penanganan pada korban yang saat itu bibirnya sudah biru menandakan adanya penyumbatan pernafasan yang sudah lumayan.
Saat sedang dibersihkan jalan pernafasannya, keluar cairan berwarna kecoklatan yang berbau susu dari dalam paru-paru korban yang diduga adalah remahan roti dan susu.
Sampai saat ini belum terdengar kabar adanya pertemuan atau mediasi antara pihak RSUD Soewandhi dengan keluarga korban. (Riris*)
