
Grobogan, kabarterdepan.com- Melalui Focus Group Disccusion (FGD) Dinas Pertanian (Dispertan) Grobogan dorong petaninya untuk membentuk Forum Kemitraan Petani Tembakau.
Pembentukan Forum Kemitraan Petani Tembakau Grobogan ini menjadi ide cerdas yang dimaksudkan sebagai forum bertemunya berbagai pihak untuk pengembangan kualitas tembakau di Kabupaten Grobogan.
Adanya forum tersebut diharapkan para petani tembakau dapat berdiskusi dan berkoordinasi dengan pihak terkait dalam mengatasi permasalan tembakau dari hulu ke hilir.
Forum kemitraan itu diyakini dapat memberikan banyak manfaat bagi para petani tembakau. Hal itu disampaikan Sunanto, kepala Dinas Pertanian Grobogan, pasca menghadiri FGD, baru-baru ini.
Dijelaskan, Kabupaten Grobogan selain dikenal sebagai produsen padi, jagung, dan kedelai atau lebih terkenal sebagai Pajale juga masih ada komoditas lain yang juga berkembang cukup baik, yakni komoditas tembakau.
“Hasil tembakau Grobogan lebih banyak dibandingkan kabupaten sekitar,” ungkap Sunanto, Selasa (29/10/2024).
Berdasarkan data Dispertan, area tembakau yang ada di Grobogan pada tahun 2023 memiliki luasan sekitar 3.600 hektar yang tersebar di beberapa kecamatan. Kemudian pada tahun 2024 bertambah menjadi 4.300 hektar.
Luasan lahan itu, menurut Sunanto, berimbang dengan Demak. Sedangkan bila dibandingkan dengan Blora, Rembang, Pati, Kudus, dan Sragen, capaian Grobogan masih lebih unggul.
Meskipun punya lahan cukup luas, namun hasil panen tembakau itu belum tentu akan diserap oleh pabrik rokok di Grobogan.
“Jadi, ada resep rokok yang cocok dengan tembakau daerah tertentu. Bergantung resep rokok dari pabrik masing-masing,” imbuhnya.
Tentunya sambung Sunanto, hal Ini menjadi permasalahan yang cukup komplek dalam pengembangan tembakau di Kabupaten Grobogan. Mulai dari kegiatan budidaya sampai proses panen dan pascapanen. Imbasnya, kondisi itu mempengaruhi kualitas tembakau.
“Jika kualitas tembakau tidak memenuhi standar yang diperlukan oleh industri rokok. Maka hasil tembakau petani tidak akan menghasilkan keuntungan,” jelasnya.
Sementara itu, Kabag Perekonomian Setda Grobogan Agus Budi Karyanto saat dikonfirmasi mengenai hal itu, pihaknya mendukung forum kemitraan tersebut.
Bentuk dukungan yang dimaksud bisa dengan penganggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) agar dapat dimanfaatkan petani tembakau.
“Nantinya, DBHCHT yang diterima Pemkab Grobogan bisa diberikan ke petani tembakau untuk meningkatkan kualitas tembakau,” tambahnya.
Senada, Direktur Pemasaran PT BPR BKK Purwodadi Widi Raharja juga siap mendukung petani tembakau biar makin kuat.
“Caranya, bisa dengan mendukung permodalan dengan bunga yang rendah untuk petani tembakau,” tambahnya.
Sebagai informasi tambahan, FGD di adakan Dispertan Grobogan itu dihadirkan pejabat terkait, seperti dari Bappeda, BPPKAD, Diperindag Kabupaten Grobogan dan Bagian Perekonomian (instansi pemerintahan).
Kemudian, ada dari Universitas Negeri Sebelas Maret (akademisi), PT BPR BKK Purwodadi (perbankan), petani, dan pelaku Usaha mitra petani tembakau.
(Masrikin)
