
Banyuwangi, kabarterdepan.com – Debat pertama Pilkada Banyuwangi telah selesai digelar pada Minggu, (27/10/2024) dengan menampilkan 5 segmen, di antaranya adalah pertanyaan untuk para calon pemimpin daerah.
Pertanyaan pertama yang diajukan kepada kedua pasangan calon adalah sub tema ketenagakerjaan, yaitu mengurai jumlah pengangguran terbuka di Banyuwangi sebanyak 49.129 jiwa, merunut data dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Sekaligus membahas pendapatan per kapita Banyuwangi sebesar Rp 470.417 yang keduanya disebut dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Banyuwangi, sehingga para paslon diminta menjelaskan langkah konkrit yang akan dilakukan untuk mengatasi hal tersebut jika terpilih memimpin Banyuwangi.
Peningkatan Ekonomi Padat Karya
Mendapatkan kesempatan pertama untuk menjawab, paslon nomor urut 2, Ali Makki Zaini-Ali Ruchi mengatakan akan meningkatkan ekonomi padat karya dan mengarahkan investasi di tingkat desa.
“Kami ada program pembangunan berbasis desa di mana nanti anggarannya minimal Rp 3 miliar per desa di luar DD/ADD, itu menjadi program utama kami. Di situ banyak kegiatan melibatkan warga-warga desa,” kata Cawabup Banyuwangi nomor urut 2, Ali Ruchi.
Menjawab hal tersebut, Cabup Banyuwangi nomor urut 1 yang juga merupakan petahana, Ipuk Fiestiandani mengatakan bahwa selama kepemimpinannya, program ekonomi padat karya telah berjalan.
“Kami sudah melaksanakan program padat karya kemiskinan, di mana pembangunan infrastruktur, jalan dan irigasi, kami melibatkan masyarakat di tingkat desa agar mendapatkan kue dari pembangunan di desa tersebut,” kata Ipuk.
Dilanjutkan Ipuk, selama menjabat, Pemkab Banyuwangi disebutnya menjalin komitmen dengan investor yang masuk untuk menyerap tenaga kerja lokal serta berbagai bantuan dan program yang mendukung tumbuhnya wiraswasta baru di Banyuwangi.
“Ada 7 SMK yang sudah melakukan MoU dengan salah satu BUMN di Kabupaten Banyuwangi. Kami juga memberikan bantuan alat usaha baru kepada anak-anak SMK agar dapat menjadi wiraswasta baru,” tutur Ipuk.
Paslon nomor urut 2 yang mendapatkan kesempatan untuk menanggapi Ipuk kemudian mengatakan bahwa mereka telah banyak berkeliling di berbagai wilayah dan bertemu kelompok masyarakat.
Ali mengatakan bahwa berdasar informasi yang diberikan masyarakat bahwa program padat karya justru dikerjakan pihak luar dan hasil pembangunan tak bertahan lama.
“Data dan kenyataan, monggo masyarakat nilai sendiri,” tandasnya. (Fitri)
