Hari Penglihatan Sedunia 2024, Sayangi Mata Anak Kita

Avatar of Lintang
WhatsApp Image 2024 10 14 at 12.41.23 PM
Deteksi gangguan penglihatan. (Foto: Kemenkes)

Kesehatan, Kabarterdepan.com – Menurut data International Agency for the Prevention of Blindness pada 2021, sekitar 165 juta anak di seluruh dunia mengalami rabun jauh. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat menjadi 275 juta anak pada 2050.

Di Indonesia, sebanyak 3,6 juta anak mengalami kelainan refraksi, dan jumlah ini berpotensi terus meningkat. Diperkirakan 3 dari 4 anak dengan kelainan refraksi belum mendapatkan koreksi dengan kacamata.

NTB dipercaya sebagai tuan rumah pelaksanaan Puncak Peringatan Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day (WSD) 2024 yang diselenggarakan di Hotel Lombok Astoria, Mataram pada Kamis (10/10/2024). Kali ini WSD mengangkat tema ‘Sayangi Mata Anak Kita’ dan tema internasional ‘Love Your Kids Eyes.’

Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, M.K.M., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.

WSD ini, menurutnya, merupakan salah satu cara mengkampanyekan pentingnya menjaga kesehatan mata dan meningkatkan upaya deteksi dini gangguan penglihatan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Harbuwono menyatakan, menjaga kesehatan mata sejak dini adalah investasi masa depan. Melalui penglihatan, anak-anak mulai belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

“Adanya gangguan penglihatan dapat berdampak pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak-anak kita,” kata Prof. Dante yang mengikuti kegiatan WSD via daring.

Prof. Dante juga mengajak masyarakat untuk menjaga penglihatan generasi masa depan menuju Indonesia Emas 2045 dengan melakukan pencegahan dan deteksi dini.

“Saya mengajak kita semua untuk terus melakukan pencegahan, deteksi dini, serta pengobatan gangguan penglihatan pada anak,” lanjut Prof. Dante.

PJ Gubernur yang diwakili Sekda NTB, Lalu Gita Ariadi, mengatakan Pemprov NTB berkomitmen untuk menangani masalah gangguan penglihatan. Berdasarkan data Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014, prevalensi kebutaan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah 4% sehingga NTB berada pada urutan kedua Nasional.

“Di NTB, kasus katarak kurang lebih 37.500-an kasus 29.300-an di antaranya katarak. Data tahun 2020 disampaikan juga bahwa 15,81% terjadi kasus refraksi penglihatan pada anak. Daerah Lombok Barat dari survei-survei spontan yang dilakukan terhadap 400 anak, terdapat 25% mengalami gangguan penglihatan,” kata Sekda Lalu Ariadi.

Lebih lanjut, Sekda Lalu Ariadi mengatakan, angka 25% gangguan penglihatan pada anak ini dapat terus meningkat. Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan untuk menghindari potensi sebagai kontributor ancaman kebutaan.

Dalam pelaksanaan kegiatan Hari Penglihatan Sedunia, juga dilakukan pemberian kacamata gratis untuk anak-anak yang mengalami kelainan refraksi.

Siswa SMP Gunung Sari, Sahirah Safitri, sebagai salah satu penerima kacamata gratis, merasa senang dan berterima kasih atas bantuan tersebut. Dengan kacamata baru, Sahirah kini dapat melihat dengan jelas, setelah sebelumnya penglihatannya buram pada jarak tertentu.

“Perasaan saya senang bisa dapat kacamata baru. Dengan kacamata baru ini, saya melihatnya lebih jelas dan agak terang sedikit karena sebelumnya itu agak buram dan nggak jelas-jelas gitu,” kata Sahirah.

Hari Penglihatan Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan penglihatan. Untuk itu, Kemenkes mengajak semua pihak untuk memperhatikan kesehatan mata, khususnya bagi anak-anak, demi generasi masa depan. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page