
Semarang, Kabarterdepan.com – Kabar memilukan datang dari lingkungan kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Seorang mahasiswa Teknik Informatika inisial VI (20) ditemukan tewas gantung diri di kamar kosnya, Kamis, (3/10/2024) sekitar pukul 17.45 WIB.
Kejadian ini mengejutkan warga sekitar dan membuat gempar jagad media sosial.
“Korban ditemukan dalam posisi tergantung menggunakan kabel wifi yang melilit lehernya, tepat di dekat kusen pintu kamar kosnya yang berlokasi di Gang Pisang, RT 02 RW 03, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Semarang,” ungkap Lurah Sekaran, Sri Hartatin di ruang kerjanya, Senin (7/10/2024).
Dalam kejadian ini, mahasiswa Unnes tersebut meninggalkan sejumlah pesan yang ditujukan kepada keluarganya dan orang-orang terdekat.
Dalam surat tersebut, ia menyampaikan permohonan maaf atas keputusannya untuk bunuh diri dan menyebut dirinya sebagai “produk gagal” yang tidak layak ditangisi.
Ia juga berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang telah mencintainya selama 20 tahun.
Berikut cuplikan isi pesan terakhir VI,
“Terima kasih sudah membesarkan aku selama 20 tahun ini, terima kasih atas cinta kalian yang sangat sangat banyak, maaf karna membalas kasih sayang kalian dengan ini. Kudoakan yang terbaik untuk kalian semua. Tak perlu ada tangisan karena aku produk gagal yang tak layak ditangisi. Cukup beri emosi jijik dan marah, atau senang akhirnya sumber masalah hilang?”
Kabar duka ini dengan cepat menyebar melalui media sosial, memancing simpati sekaligus keprihatinan dari berbagai kalangan.
Banyak netizen mengungkapkan belasungkawa dan berharap agar keluarga diberi kekuatan menghadapi peristiwa tragis ini.
“Dari informasi yang beredar, VI diketahui berasal dari Kelurahan Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat,” lanjut Sri Hartatin.
Namun, hingga berita ini dirilis, alasan pasti di balik aksi bunuh diri tersebut belum diketahui.
Beberapa rumor di media sosial mengaitkannya dengan masalah judi online yang mungkin menjerat korban, tetapi polisi masih menyelidiki motif sebenarnya.
Kasus ini menambah panjang catatan kelam bunuh diri di kalangan mahasiswa, mengingat semakin banyak tekanan psikologis yang dialami oleh generasi muda.
“Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab pasti dan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan tragis tersebut,” pungkas Sri Hartatin.
Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa yang sering kali menghadapi tekanan akademis maupun sosial yang berat. (Ahmad)
