
Banyuwangi, Kabarterdepan.com – Banyuwangi berhasil menembus pasar Kanada dengan ekspor perdana tuna kaleng bernilai USD 10 juta. Ekspor perdana itu dilepas langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, Senin, (30/9/2024).
Trenggono hadir dalam pemberangkatan ekspor perdana tiga kontainer tuna kaleng yang merupakan hasil fasilitas Pameran Seafood Expo Global 2024 serta meresmikan Unit Pengolahan Ikan PT Pasifik Masami Indonesia yang terletak di Jalan Raya Situbondo, KM 12, Silogiri, Ketapang,
Trenggono memuji konsistensi pabrik pengolahan yang telah berdiri 35 tahun tersebut dalam menjaga konsistensi produktivitasnya, bahkan kini dari 3 pabrik yang beroperasi mampu menghasilkan 300 ton produk setiap harinya.
“Ini luar biasa, dengan berhasil memproduksi sebanyak 300 ton setiap harinya, berarti sekitar 1600 ton bahan yang dibutuhkan, yang dengan itu memberdayakan nelayan serta membuka lapangan kerja untuk masyarakat Banyuwangi,” kata Trenggono.
Trenggono mengungkapkan bahwa pemerintah mendukung penuh pengembangan sektor perikanan dan untuk menjaga hal tersebut, pihaknya telah membuat 5 kebijakan yang akan menjaga keberlanjutan produksi ikan di laut di masa depan.
“Pertama, harus menjaga ruang konservasi. Pada 2045, Indonesia menargetkan 29,7 juta hektar ruang konservasi,maka industri akan terjaga, sustain, dan kontribusi yang luar biasa,” ujarnya.
Selain terdapat kebijakan terkait terukurnya penangkapan di laut, budidaya ikan yang telah dilaksanakan di Biak, Papua yang nantinya akan ada pula di Banyuwangi dan Aceh.
“Pulau kecil dan pesisir harus kita jaga dengan baik, pariwisata maritim bisa merusak lingkungan serta kegiatan laut bebas dari plastik, begitu juga dengan pemberdayaan nelayan juga penting,” pesannya.
Sementara itu, pemilik PT Pasific Masami Indonesia, Sherly Indrawati Aminoto mengungkapkan terus mengembangkan pasar baru, sebelum Canada, perusahan miliknya juga berhasil mengekspor ke Jerman.
“Nilai kontrak dengan Kanada adalah USD 10 juta yang menjadi one of the largest,” tuturnya.
Sherly menuturkan bahwa ada begitu besar potensi pasar yang terbuka, dan perusahaannya akan terus mendorong penjualan dari 100-200 kontainer perbulan hingga suatu saat nanti mampu melampaui Thailand yang saat ini mampu mencapai 1000 kontainer perbulan.
“Bulan depan akan di-push 300 kontainer dan targetnya lebih besar dari ekspor Thailand. Saat ini kami sudah ekspor ke 80 hingga 100 negara dengan private label,” ujarnya.
Sherly juga menambahkan, perusahaannya memproduksi pengolahan ikan dengan sistem zero waste management, yaitu daging cokelat tuna digunakan untuk pet food, pakan udang, hingga pakan lele.
Ditambahkan Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah yang mengaku bangga produk perikanan dari Banyuwangi mampu bersaing dengan produk internasional yang memiliki standar tinggi sebagai Canada.
Dengan ekspor tersebut, Sugirah berharap akan adanya peningkatan kesejahteraan bagi nelayan dan 3 ribu pekerja yang sebagian besar adalah warga Banyuwangi.
“Saya juga menekankan pentingnya menjaga kualitas agar ekspor tak hanya sekali tapi berkelanjutan. Buat nilai tambah bagi produk perikanan melalui ovasi pengolahan ikan. Pemkab Banyuwangi mendukung penuh kemajuan sektor perikanan dan kelautan,” tandasnya. (Fitri)
