
Jakarta, KabarTerdepan.com – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memastikan musim haji 2024 tidak ada pendamping haji lanjut usia (lansia). Menteri Agama menginginkan penyelenggaraan ibadah haji 2024 harus adil sesuai dengan porsi dan urutannya.
Menurutnya, adanya kuota haji pendamping lansia hanya akan merusak antrean haji dan menganggu banyak hal terkait pelaksanaan operasional penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia.
“Ini akan merusak, banyak hal mengganggu, banyak hal baik sistem antreannya kemudian ada ruang-ruang yang mungkin justru akan merugikan jemaah lain kalau pendamping kita masukkan, pasti jemaah yang akan berangkat dia harus geser karena diambil kuotanya oleh pendamping ini. Kita tidak ingin itu terjadi. Kita inginnya jemaah ini bisa berangkat beribadah dengan cara yang berkeadilan. Adil dalam terjemahan kami ya seperti itu,” ujarnya seperti yang dilansir kabarterdepan dari laman resmi Kemenag.go.id.
Gus Men, sapaan akrab menteri agama, sejatinya memahami bahwa jemaah haji lansia tahun ini yang mencapai 67 ribu membuat jemaah lainnya dalam satu rombongan ikut membantu kebutuhan para lansia.
“Saya paham itu. Jadi saya harus berterima kasih kepada para jemaah. Jemaah Indonesia ini relatif tertib mengikuti aturan yang dibuat baik oleh pemerintah Saudi maupun Indonesia. Saya kira ini baik dan perlu diapresiasi terkait pelayanan. Lansia yang mungkin kurang atau tidak ada pendampingnya di kamar masing-masing. Kita sudah perhitungkan itu dan kita minta semua petugas standby ketika dibutuhkan. Memang secara teknis ini tidak mudah tapi akan lebih sulit lagi jika kemudian kuota pendamping kita berikan,” katanya.
Untuk memperbaiki pelayanan petugas haji terhadap lansia pada musim haji 2024, Gus Men sudah saling bertemu dalam pertemuan OKI dengan pihak Menteri Haji Saudi. Sebagai solusi untuk memberikan pelayanan pada jemaah lansia, yakni mengusulkan tambahan kuota untuk petugas dari Indonesia.
“Kami kemarin ketemu dengan Menteri Haji Saudi, Pak Taufik. Saya sampaikan bahwa kuota petugas yang diberikan kepada Indonesia ini masih jauh dari ideal. Karena kalau kita hitung probability-nya 1:50. Satu petugas dibanding 50 jemaah tentu sulit,” kata Gus Men lagi.
Apalagi, lanjut Gus Men, petugas yang ada harus disebar di sejumlah titik, mulai dari bandara, Mekkah juga Madinah. Karena kurang idealnya porsi kuota untuk petugas hal ini menimbulkan kerja petugas menjadi lebih berat.
“Jadi kadang-kadang teman-teman media juga harus mengerjakan hal yang di luar tanggung jawabnya karena keterbatasan itu. Misalnya saya lihat beberapa teman-teman media di mina misalnya harus gendong jemaah, ini kan saya kira ini masih dinegosiasikan agar ke depan petugas itu diberikan tidak berdasarkan proporsi tapi berdasarkan pada kebutuhan,” ujarnya.
Gus Men mencontohkan, kebutuhan di Arofah Muzdalifah dan Mina (Armuzna) itu akan beda dengan kebutuhan di luar Armuzna. Gus Men nantinya akan membicarakan dengan pemerintah Saudi bagaimana petugas di Armuzna.
“Jadi kita sudah diskusikan di meeting tadi beberapa kemungkinan yang bisa kita lakukan tahun depan agar pelayanan jemaah lebih baik,” ujarnya. (*)
