
Aceh, kabarterdepan.com – Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut belakangan banyak disorot. Selain ada infrastruktur venue pertandingan yang belum siap, juga ada keluhan dari atlet soal jatah makanan yang dianggap tidak layak bagi seorang atlet.
“Inilah makanan sehari-hari PON Aceh, atlet disuruh makan kering tidak berkuah gini, aduh,” ujar seseorang dalam video viral di akun TikTok @bahaslatihan yang dilihat Sabtu (14/9/2024).
Dalam tayangan video itu Nampak seorang atlet yang unboxing paket makanan untuk atlet, dalam satu kotak makan hanya terdapat telur bali, nasi putih, sayur buncis, tempe dan sepotong daging ayam.
Unggahan video itu dikomentari beragam oleh warganet. Ada yang membela panitia, namun juga tidak sedikit yang menganggap makanan itu tidak layak untul atlet.
“bukannya ngebelain ya, kalau nasi boxnya buat orang umumnya si sudah mewah, tapi kan ini bicara buat atlet,” tulis akun @af***.
“Bro kalau mau makan enak di warkop, anggaran Aceh Cuma 800 m, PON lain mah ampek t, itu aja bersyukur bro, saya lihat pencarian makanan pon papua mirip,” tulis akun @Dino***.
Berdasarkan data, biaya konsumsi PON Aceh-Sumut mencapai Rp 42,37 miliar, rinciannya Rp 11,472 miliar snack atlet dan Rp30,898 miliar lebih untuk makan (nasi) atlet.
Untuk makan atlet dibeli sebanyak 607.035 kotak, dengan harga per kotaknya Rp 50.900, sehingga total anggarannya mencapai Rp 30,898 miliar.
Sedangkan untuk snack atlet juga dibelanjakan sebanyak 607.035 snack, dengan harga per itemnya Rp18.900, maka total dananya sebesar Rp11,472 miliar.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo mengaku sudah mendengarkan laporan tersebut. Menurutnya panitia sudah melakukan evaluasi dengan cepat.
“Saya sudah mendapat laporan itu pertama kali di Aceh. Namun, malam harinya evaluasi dan esok harinya langsung ditemukan solusi-solusi dan langkah cepatnya,” katanya.
Dito mengklaim, saat ini makanan-makanan untuk para atlet sudah membaik baik dari sisi kualitas dan kuantitasnya. Diakuinya memberikan makanan dengan jumlah makanan yang cukup besar sebanyak tiga kali sehari itu hal yang tak mudah.
“Untuk Sumut sendiri, saya sudah melihat langsung Cheff de Mission (CdM) dan mereka sudah mengatakan bahwa makanannya meningkat dan membaik,” katanya.
Akan tetapi dirinya juga mengingatkan bahwa keluhan mengenai konsumsi hampir selalu menjadi isu dalam penyelenggaraan ajang olahraga, tidak hanya tingkat nasional tetapi juga internasional.
“Kemarin di Olimpiade Paris, ini (keluhan makanan) menjadi isu yang sangat besar juga. Bukannya kami membela, tapi ini harus diketahui seluruh orang. Bayangkan, kita ada 38 perwakilan provinsi dan itu sangat beragam. Satu provinsi juga banyak atletnya. Jadi, ini isu harus kita hadapi. Tapi, saya apresiasi apa yang dilakukan oleh PB PON dan khususnya Pemprov Aceh yang cepat menanggapinya,” kata Dito Ariotedjo. (*)
