Kemarau Melanda, Begini Respon Perum Perhutani KPH Gundih Antisipasi Kebakaran Lahan Hutan di Grobogan

Avatar of Redaksi
IMG 20240904 WA0108 scaled
Simulasi pemadaman api dikawasan hutan wana wisata cindelaras, kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan (Masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com – Antisipasi kebakaran hutan pada musim kemarau, Perum Perhutani Kawasan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih menggelar simulasi penanggulangan kebakaran lahan hutan (Karhutla) bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), di Wana Wisata Cindelaras, Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Rabu (4/9/2024).

Dalam simulasi tersebut, tampak sejumlah petugas Perhutani bersama dengan masyarakat sekitar hutan dengan sigap mematikan api yang berkobar di sekitar wana wisata Cindelaras, dengan peralatan seadanya, mereka berhasil memadamkan api yang berkobar.

Dijelaskan, Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih, Haris Setiana mengatakan pencegah kebakaran hutan adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

Kebakaran di area hutan tidak hanya mengganggu ekologi dan lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia.

Dikatakan Haris, sejumlah langkah telah ditempuh untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan di wilayahnya. Salah satunya dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar hutan dan melakukan simulasi pemadaman api di hutan.

“Pelaksanaan simulasi ini selain untuk menghadapi musim kemarau juga untuk melatih kesiapsiagaan petugas jika terjadi kebakaran,” kata Haris.

Menurutnya, pada musim kemarau ini diperlukan kesiapsiagaan, baik personel Tim Satuan Pengendali Kebakaran Hutan (Dalkarhut). Maupun sarana-prasarana pemadam kebakaran di posko-posko Dalkarhut di daerah yang rawan kebakaran hutan.

“Untuk mengoptimalkan pencegahan karhutla sedini mungkin perlu menggandeng segenap stakeholder termasuk LMDH,” katanya.

Tujuannya, sambung Haris untuk memberikan pemahaman jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran mereka bisa turut andil membantu memadamkan api. Deteksi dini untuk mengetahui titik api juga harus rutin dilakukan antara lain dengan menggunakan aplikasi Lahan Fire Hotspot.

“Jika ada titik api yang timbul, harus segera merespons cepat dalam pencegahan dan pemadamannya,” ujarnya.

Pihaknya juga telah memetakan beberapa titik yang rawan terjadi kebakaran, agar mudah mengantisipasinya. Serta membentuk satuan pengendalian kebakaran di setiap BKPH yang melibatkan masyarakat sekitar.

“Sedangkan satuan pengendalian kebakaran di KPH sebagai pusat komando,” ujarnya.

Haris berpesan agar setiap jajaran bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran seresah atau daun jati kering di dalam kawasan hutan atau di sekitar kawasan hutan.

Kawasan hutan yang keberadaannya dilintasi jalan besar penghubung antarkota, menurutnya merupakan wilayah yang sangat rawan sekali terjadinya kebakaran. (Masrikin)

Responsive Images

You cannot copy content of this page