Apa Isi Tuntutan Puluhan Warga Desa Kedungpeluk Sidoarjo ?

Avatar of Jurnalis: Setyawan
desa kedungpeluk
Aksi protes puluhan warga Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Sidoarjo, agar jembatan Bailey dibangun, Minggu (21/7/2024). (Eko Setyawan/Kabarterdepan.com)

Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Puluhan warga Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo rela berpanas-panasan melakukan demo di lokasi jembatan ambrol, Minggu (21/7/2024).

Mereka berharap kepada Pemkab Sidoarjo untuk segera membangun kembali jembatan Kedungpeluk. Sebab jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses warga wilayah Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Sidoarjo untuk beraktifitas ke daerah lainnya.

Mereka berkumpul sekitar Pukul 11.00 WIB, di atas satu sisi area jembatan yang ambrol. Mereka menggelar demo dengan membentangkan poster dan spanduk meminta bantuan Pemkab Sidoarjo.

Salah seorang peserta aksi bernama Kusnadi mengatakan, aksi tersebut merupakan tindakan spontan warga. Sekaligus aksi protes, imbas lamanya pihak pemerintah tak segera menangani persoalan jembatan yang ambrol.

“Warga tak bisa kemana-mana. Kita harapkan agar Pemkab Sidoarjo segera memasang jembatan Bailey,” katanya, Minggu (21/7/2024).

Menurutnya, penanganan yang tak kunjung dikerjakan akan memperlambat roda perekonomian penduduk setempat. Mengingat, mata pencaharian mayoritas warga Desa Kedungpeluk adalah petani tambak.

Harapan Warga Desa Kedungpeluk Sidoarjo

Mereka membutuhkan akses jalan yang baik, agar hasil panen dapat segera disetorkan ke pasar.

Saat jembatan ambrol seperti saat ini, mereka pun terpaksa mengoper  hasil panen itu dengan alat seadanya sehingga akan banyak menguras tenaga dan memakan banyak waktu.

Mereka juga khawatir, mobilitas yang minim akan mengakibatkan kebangkrutan. Itu karena tak bisa melayani pasar dengan maksimal.

“Kami sangat bergantung hasil dari panen ini,” ungkapnya.

Hal itu juga diamini oleh petambak lainnya yang bernama Muhammad Usman. Menurutnya semenjak peristiwa ambrolnya jembatan, 16 Juli 2024, lalu, ia terpaksa mengoper hasil panennya.

Ia berkali-kali memindahkan dagangannya dengan kendaraan roda dua, dengan melintasi jalan setapak di samping utara jembatan agar bisa melintasi jembatan yang ambrol.

“Terpaksa dioper. Itu akan banyak memakan waktu dan tenaga. Tentunya, juga biaya, kan,” katanya.

Ia bersama pendemo lain, benar-benar mengharapkan bantuan dari pemerintah setempat. Agar memperingan pekerjaan dan aktifitas penduduk.

Terlebih, untuk petambak penghasil udang ekspor, yang mempunyai deadline waktu ketat dari pasar yang dituju.

Diketahui sebelumnya, jembatan Kedungpeluk sepanjang 21 meter lebih itu, ambrol sejak Selasa, 16 Juli 2024, sekitar Pukul 11.00 WIB.

Sementara ini, belum terlihat penanganan atau pemasangan jembatan Bailey. Sehingga, Dam Sungai, berukuran lebar sekitar 1 meter, berada di sisi Utara jembatan, menjadi satu-satunya akses jalan alternatif penduduk setempat, yang akan melakukan aktifitasnya. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page