
Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Warga sekitar salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Sidoarjo, protes. Mereka minta, lembaga pendidikan agama itu ditutup.
Kemarahan warga itu dipicu dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oknum pengasuh Ponpes terhadap salah satu santrinya yang terjadi sekitar enam bulan lalu. Saat ini kasusnya tengah ditangani Polresta Sidoarjo.
Dalam aksi protes itu, warga membentangkan sejumlah banner berukuran sedang, bertuliskan antara lain, Mafia Berkedok Yayasan Ponpes, Warga Mengutuk Keras Tindak Asusila Berkedok Pendidikan Keagamaan, dan Merdeka Itu Bebas Dari Tindak Asusila.
Mereka lantas memasang banner-banner tersebut, persis di depan area Ponpes. Namun, pihak Ponpes tetap tak bergeming. Tetap beraktifitas seperti biasanya.
Bahkan, pihak Ponpes yang memiliki sekitar 30 santri tersebut menampik apa yang tengah dituduhkan warga sekitar. Ponpes tetap beraktifitas seperti biasanya, tanpa banyak menanggapi persoalan tersebut.
“Saya sudah 2 tahun mengajar di sini. Tidak ada seperti yang dituduhkan (dugaan pencabulan, Red). Mungkin itu fitnah,” ujar Candra, salah seorang pengasuh santri Ponpes yang berdiri sejak Tahun 2020 itu, Jumat (21/6/2024).
Terpisah, Budi Setiawan, Ketua RT setempat mengatakan, pemasangan banner itu, dilakukan warga secara spontan. Sekaligus bentuk kekesalan warga terhadap Ponpes.
“Salah satu warga, melaporkan jika anaknya diduga sempat menjadi korban pencabulan oleh pengasuh Ponpes,” katanya.
Bahkan, kata dia, dugaan kasus itu, sudah dilaporkan pihak korban ke Unit PPA Satreskrim Polresta Sidoarjo sejak enam bulan yang lalu. Namun, hingga saat ini, belum adanya perkembangan terkait dugaan kasus tersebut.
Dia juga menyampaikan, tak diketahui pasti adanya dugaan kasus pencabulan itu.
“Peristiwa itu sudah lama. Kata orang tua korban dan cerita warga memangnya begitu (ada dugaan pencabulan, Red). Ya saya kurang paham,” pungkasnya. (*)
