Kisah Pemulung Naik Haji di Mojokerto, Rajin Menabung Selama 13 Tahun

Avatar of Andy Yuwono
Khumaidi (48) dan Siti Fatimah (45), suami istri pemulung Calon Jamaah Haji asal Mojokerto. (Redaksi/kabarterdepan.com)
Khumaidi (48) dan Siti Fatimah (45), suami istri pemulung Calon Jamaah Haji asal Mojokerto. (Redaksi/kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com –
Khumaidi (48) dan Siti Fatimah (45) warga Dusun Jaringan Sari, Desa Karangdieng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang merupakan suami istri berprofesi pemulung bisa naik haji setelah menabung puluhan tahun.

Pasangan suami istri itu sehari-hari bekerja mencari barang bekas di sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto.

Keduanya akhirnya mendapatkan porsi haji dan berangkat ke tanah suci tahun 1445 Hijiriah atau tahun 2024 Masehi setelah melunasi biaya haji sebesar Rp 60.526.334.

Tentu hal itu tidak bisa dilakukanya dalam waktu singkat, pasutri ini mendaftarkan haji pada tahun 2011 silam dan menabung untuk melunasi biaya ke tanah suci tersebut.

Berkat keuletanya dan kesabaranya, keduanya yang sehari hari memilah sampah dan mengumpulkan barang rongsokan itu akhirnya membawanya ibadah ke Baitullah.

Khumaidi dan istrinya mendaftarkan diri ke salah satu Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) pada tahun 2011. Di tahun 2021 keduanya rencananya akan diberangkatkan namun terkendala penyebaran virus Covid-19 sehingga ditunda.

Khumaidi keseharian mencari rongsokan di TPA Karang Diyeng, Kutorejo, Mojokerto. (Redaksi/kabarterdepan.com)
Khumaidi keseharian mencari rongsokan di TPA Karang Diyeng, Kutorejo, Mojokerto. (Redaksi/kabarterdepan.com)

Hingga akhirnya keduanya mendapatkan porsi untuk menunaikan ibadah rukun islam ke lima yang akan diterbangkan ke tanah suci pada 28 Mei 2024 mendatang.

Saat ditemui di kediamanya, Kumaidi yang bekerja sebagai pemulung itu bisa berangkat haji pada tahun ini menjelaskan dirinya setiap harinya mencari barang rongsokan dari tunpukan sampah di TPA yang letaknya tak jauh dari rumahnya.

“Kerjanya jadi pemulung di TPA cari barang barang bekas,” katanya, Selasa (21/5/2024) siang.

Dari hasil mengumpulkan rongsokan plastik dan kaleng bekas itu, hasil keringatnya sehari hanya diantara Rp. 100.000 dan sebagian disisihkan untuk menabung.

“Yang Rp 75.000 ditabung buat naik haji ini,” tuturnya.

Jerih payahnya sejak puluhan tahun silam ini membuahkan hasil, di tahun 2023 lalu, ia mampu melunasi biaya haji di salah satu kelompok bimbingan haji.

“Menabungnya sejak 13 tahun lalu, daftarnya sejak tahun 2011,” tandasnya.

Ia pun tak menyangka, usaha jerih payahnya puluhan tahun lalu membawanya untuk menunaikan ibadah haji.

“Sangat senang mas dipanggil ke Baitullah, gak menyangka lah,” tutupnya sambil terenyuh.

Sementara itu, Siti Fatimah (45) istri Khumaidi mengaku setiap hari ia menyisihkan uang hasil bekerja suaminya tersebut untuk disetorkan langsung ke pengurus KBIH di Kecamatan Pungging.

“Saya simpan uangnya dirumah lalu dapat Rp 500,000 saya setorkan ke KBIH,” tutupnya.

Kini, keduanya akan berangkat ke tanah suci bersama 1.378 Calon Jamaah Haji Kabupaten Mojokerto melalui Embarkasi Surabaya.(*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page