
Mojokerto, kabarterdepan.com – Acara dengan tajuk Memetri Suluk Aji sebagai wadah episentrum uri-uri budaya nusantara digagas komunitas pegiat budaya Mojokerto. Muhammad Al Barra (Gus Barra) Wakil Bupati Mojokerto turut hadir ditengah-tengah acara tersebut.
Pegiat Budaya, seniman dan tokoh masyarakat bercengkrama saling luapkan syahwat gagasan dengan tujuan positif mengenai misi bagaimana memupuk dan merawat budaya peninggalan leluhur kita, agenda perdana ini dilaksanakan di Pendopo Rakyat Rumah Dinas Wakil Bupati Mojokerto Jl. Jayanegara No.201A, Karang Mojo, Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto Rabu Malam (15/5/2024).
Gus Barra sapaan akrab Wakil Bupati Mojokerto dalam agenda tersebut mengatakan bahwa sebagai episentrum nusantara, budaya peninggalan leluhur majapahit perlu dirawat dan dilestarikan.
“Budaya merupakan hasil dari pemikiran yang menjadi pola adat istiadat pada jamannya, mengakar dari sejarah peradaban, budaya kita sangat tinggi, bahkan negara lain tidak punya tokoh sejarah seperti bangsa kita seperti gajah mada, hayam wuruk dll,” jelasnya.
Maka dari itu, lanjut sosok yang juga akan running dalam kontestasi Pilkada 2024 ini mempunyai misi linier dengan gagasan yang dibahas apabila nanti ditakdirkan memimpin Kabupaten Mojokerto.
“Apresiasi setinggi-tingginya untuk komunitas yang peduli dan menghidupi budaya, uri-uri budaya mestinya harus difasilitasi, hematnya minimal paling tidak kita punya taman budaya seperti di Jakarta kan ada Taman Ismail Marzuki,” ucapnya.
Sosok putra Kiai Asep pendiri Pondok Pesantren modern Amanattul Ummah dengan ribuan santri ini lanjut menjelaskan pentingnya tempat sebagai taman budaya untuk mengekspresikan dan menampilkan berbagai macam kebudayaan supaya generasi penerus mrnjadi tahu terhadap warisan budaya dari leluhur.
“Masukan dari kawan-kawan pegiat budaya, seniman, tokoh masyarakat ini tadi sangat bagus, memang kita belum punya ikon, kita pikirkan bersama nanti kedepan Kabupaten Mojokerto ini minimal bisa punya semboyan seperti contohnya Kabupaten Wilwatikta, Pararaton dan lain-lain, atau apapun itu yang jelas bisa menginterpretasikan bahwa Mojokerto dalam sejarahnya sebagai pusat kerajaan Majapahit,” tuturnya.
Ia juga menyinggung soal pentingnya memperkenalkan situs-situs peninggalan budaya seperti di area Trowulan. Menurutnya kegiatan akbar yang dipublikasikan selevel nasional harus terpusat disana.
“Ke depan harusnya kegiatan akbar pekan budaya Kabupaten Mojokerto fokus memperkenalkan situs peninggalan budaya, disinilah kita nanti punya diferensiasi dengan daerah lain, jati diri sejatinya Kabupaten Mojokerto sebagai pusat peradaban kerajaan Majapahit dengan segala peradaban budayanya kita lestarikan,” pungkasnya.
Kartiwi penggagas Suluk Aji Nusantara bangga terhadap respon Wakil Bupati Mojokerto, gagasan pengembangan pelestarian budaya bersama kawan-kawan pegiat budaya yang ada di Kabupaten Mojokerto ini diterima dengan baik oleh Pemerintah Daerah. Upayanya mengenai pemajuan budaya ini berdasar pada Undang – Undang No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, bahwa pemerintah memiliki perhatian khusus terhadap upaya-upaya peningkatan kebudayaan di Indonesia.
“Dengan hadirnya wadah bertajuk Memetri Suluk Aji ini diharapkan bagi teman sejawat kami pegiat budaya yang selama ini belum muncul ke permukaan bisa kembali tergugah dan kembali aktif untuk melestarikan budaya warisan leluhur nusantara,” jelasnya.
Sekadar informasi dalam acara ini juga dimeriahkan penampilan apik dari grup musik keroncong “Jelita” asal Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Alunan irama keroncong asli nusantara all around mulai memoria sampai kekinian bisa dibawakan dengan menawan menjadi hiburan disela acara. (Alief)
