
Semarang, Kabar terdepan.com – Musim pancaroba dari musim penghujan ke musim panas menjadi salah satu penyebab munculnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRMT Wongsonegoro Semarang atau RSWN pun mewaspadai terjadinya peningkatan pasien DBD, terutama anak-anak, seiring pengaruh musim.
“Sekarang ini RSWN banyak merawat pasien (DBD) terutama anak. Pada Januari ada 10 anak, Februari ada 17 anak, Maret 22 anak, dan April 20 anak. Mei, sampai hari ini sudah 11 anak positif DBD,” kata Direktur RSWN Eko Krisnarto di Semarang, Minggu (12/5/2024).
Eko memaparkan gejala DBD biasanya adalah demam tinggi yang naik turun disertai gangguan pencernaan, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan kadar trombosit untuk memastikan diagnosa.
“Orang tua sudah kasih obat turun panas, kemudian demam turun. Tapi meningkat lagi, sehingga dibawa ke rumah sakit, setelah diperiksa trombosit mengalami penurunan,” katanya.
Dia mengatakan kebanyakan pasien DBD anak saat dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) kondisinya sudah lemas, karena biasanya mereka tidak mau makan dan minum, ditambah kondisinya demam.
Meski demikian Eko memastikan pasien DBD bisa ditangani dengan baik dengan perawatan dan pengobatan selama rawat inap, sehingga tidak sampai pada fatalitas atau kematian.
Eko mengakui penyakit DBD memang tengah marak belakangan ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pasien yang dirawat inap, termasuk dengan pasien dewasa, meski jumlahnya tidak sebanyak dibanding pasien anak.

Saat ini, lanjutnya, RSWN telah menyiapkan seluruh langkah antisipasi, termasuk penyediaan sarana prasarana bagi pasien, khususnya DBD anak, yang memerlukan layanan rawat inap.
Banyaknya pasien DBD anak, imbuhnya, biasanya dipengaruhi perubahan cuaca yang membuat anak-anak mengalami penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan tertular penyakit.
“Perubahan cuaca, anak-anak kan daya tahan tubuhnya rentan ya. Permainan dan sosialisasi di sekolah biasanya sangat berpengaruh. Biasanya kalau ada satu anak terkena DBD, satu kelas ada yang kena,” katanya.
Selain DBD, menurut Eko, penyakit yang sempat marak adalah infeksi gastroenterologi yang ditandai mual dan diare. (Ahmad)
