Mengenal Profesi Unik Warga Grobogan Sebagai Tukang Gebyok di Jalan Raya Solo-Purwodadi

Avatar of Redaksi

 

Aktivitas warga Monggo, Geyer yang membantu mengatur lalu lintas saat ada kendaraan mogok di jalan raya Solo-Purwodadi. (Masrikin/kabarterdepan.com)
Aktivitas warga Monggo, Geyer yang membantu mengatur lalu lintas saat ada kendaraan mogok di jalan raya Solo-Purwodadi. (Masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com- Bagi pengguna jalan yang melewati jalur jalan raya Purwodadi-Solo, tentunya sering menjumpai adanya aktivitas warga setempat yang membantu mengatur lalu lintas saat ada kendaraan bermuatan berat mengalami mogok atau rusak.

Kerusakan kendaraan bermuatan berat rusak atau mogok sering dijumpai di km 80 hingga km 86 tepatnya di desa Monggot hingga juworo Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan.

Pasalnya, jalur tersebut merupakan kawasan hutan kondisinya banyak tanjakan dan tikungan. Tak jarang dan hampir tiap hari terdapat kendaranan bermuatan berat seperti truk tronton dan kendaraan roda empat lainnya mengalami mogok di jalan tersebut

Kendaraan berat yang mengalami mogok rupanya menarik perhatian beberapa warga setempat. Mereka langsung berkumpul di lokasi yang terdapat kendaran mogok tersebut untuk mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan.

Sebagian warga Grobogan menyebut mereka sebagai “tukang gebyok”, kegiatan tukang gebyok di area tersebut sudah sudah terjadi sejak lama, bahkan kegiatan yang dilakukan sekelompok warga ini, seakan-akan sudah menjadi sebuah profesi bagi mereka.

Romo (45) salah satu Tukang Gebyok warga desa monggot saat dikonfirmasi Rabu (1/5/2024) mengatakan, bahwa dirinya dan beberapa warga lainnya awalnya hanya membantu mengatur lalu lintas yang tersendat saat terdapat kendaraan bermuatan alami kerusakan.

“Awalnya kita hanya membantu mengatur lalu lintas, namun, dari situ kita dapat mengumpulkan uang hasil dari pemberian pengguna jalan yang merasa terbantu dengan adanya warga di lokasi,” ungkanya.

Lebih lanjut dalam keterangan Romo, sekelompok tukang gebyok dibagi menjadi dua yakni di belakang dan di depan kendaraan yang mogok untuk mengatur pengguna jalan agar bergantian saat melewati kendaraan mogok tersebut. Dari hasil pengaturan lalulintas , Romo dan beberapa temannya mendapatkan ratusan ribu rupiah perjamnya.

Romo menjelaskan, setelah selesai mengatur kendaraan, pengumpulan uang hasil pemberian dari pengguna jalan langsung dibagi rata. Semakin lama mogoknya semakin besar pembagiannya. Tak jarang Romo dan rekannya harus membagi waktu 2 jam sekali untuk bergiliran mengatur lalu lintas.

“Semakin lama mogok semakin banyak uang yang dikumpulkan hasil dari pemberian dari pengguna jalan yang melewati jalan ini.” Jelasnya.

Sementara, Supriyadi (50) sopir truk tronton asal Rembang mengatakan, dirinya sangat terbantu adanya tukang gebyok di lokasi. Selain membantu mengatur lalu lintas, tukang gebyok juga menjaga barang muatan yang ada di kendaraannya yang mogok.

“Saya sudah dari tadi malam di sini truk mengalami kerusakan mesin sehingga perlu waktu lama untuk memperbaikinya. Untung ada tukang gebyok kalau tidak ada pasti saya akan jenuh karena di sini merupakan wilayah hutan jauh dari pemukiman warga,” ucapnya.

Menurutnya, tukang gebyok juga memberikan rasa aman tersendiri. Sebab sejak semalam hingga siang ini mereka bergantian mengatur lalu lintas.

“Kehadiran mereka tidak jadi permasalahan meskipun tampang mereka seperti preman namun pada dasarnya mereka orang-orang yang baik hati,” tandasnya. (kin)

Responsive Images

You cannot copy content of this page