BPBD Sleman Minta Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem

Avatar of Ahmad
IMG 20260303 WA0147
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Raden Haris Martapa saat diwawancarai, Selasa (3/3/2026). (Hadid Husaini)

Sleman, KabarTerdepan.com – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Haris Martapa, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih terjadi hingga Maret 2026.

Hal tersebut disampaikannya pada Selasa (3/3/2026), menyusul rilis prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Haris menjelaskan, berdasarkan rilis BMKG DIY, pada dasarian ketiga Februari 2026 curah hujan tercatat antara 75–200 mm dengan intensitas menengah hingga tinggi.

Intensitas Hujan

Sementara pada dasarian pertama Maret diperkirakan 50–150 mm per dasarian, dan dasarian kedua Maret (sekitar 20 Maret) berkisar 20–150 mm dengan intensitas rendah sampai menengah.

“Secara rata-rata, curah hujan bulan Maret berada di kisaran 151–500 mm per bulan dengan kategori menengah hingga tinggi. Artinya, potensi hujan masih cukup signifikan,” ujar Haris saat jumpa pers di Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Selasa (3/3/2026).

Ia menambahkan, pihaknya juga mencermati adanya tiga bibit siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia yang berpengaruh terhadap dinamika cuaca.

Bibit siklon tersebut berada di selatan Banten dan Jawa bagian barat, barat laut Australia, serta selatan Papua berdasarkan rilis 27 Februari dan 2 Maret 2026.

“Bibit siklon ini sangat kuat pengaruhnya terhadap cuaca di wilayah kita. Karena itu, BPBD menghitung langkah kesiapsiagaan secara lebih serius,” katanya.

BPBD Sleman Ungkap Potensi Bencana

Menurut Haris, secara umum Januari hingga Februari masih masuk musim hujan, dengan awal musim kemarau diprediksi mulai April–Mei 2026. Saat ini wilayah DIY berada pada masa pancaroba.

BPBD Sleman memprediksi potensi banjir pada Februari hingga Maret 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah. Namun, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi secara spot atau lokal.

Beberapa wilayah yang sempat mengalami curah hujan tinggi antara lain Kalasan, sebagian Prambanan, dan Ngemplak. Selain itu, wilayah barat Sleman juga sempat terdampak cuaca ekstrem yang mengakibatkan korban akibat sambaran petir.

“Yang perlu diwaspadai adalah hujan lebat bersifat spot, angin kencang, petir, banjir, dan tanah longsor dalam dua sampai tiga dasarian ke depan,” tegasnya.

Wilayah Rawan Genangan dan Longsor

BPBD Sleman mengingatkan potensi banjir dan genangan air terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di lereng Merapi maupun kawasan perbukitan Prambanan.

Sementara genangan air kerap terjadi di kawasan perkotaan seperti sekitar ring road, underpass Kentungan, serta bundaran UGM.

Masyarakat juga diminta rutin membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar guna mengurangi risiko banjir, serta melakukan pemangkasan pohon yang tinggi, besar, atau keropos untuk mencegah pohon tumbang saat angin kencang.

“Kami mohon masyarakat menghindari aktivitas di wilayah rawan bencana saat hujan intensitas tinggi, khususnya di lereng Prambanan bagian timur. Jika hujan disertai angin kencang saat berkendara, sebaiknya berhenti di tempat aman,” imbau Haris.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyiapkan tas siaga bencana berisi perlengkapan darurat yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk keselamatan diri.

Antisipasi Libur Lebaran

Antisipasi Lonjakan Wisatawan Lebaran
Menjelang Idul Fitri dan libur panjang, BPBD Sleman juga menyoroti potensi lonjakan wisatawan.

Berdasarkan perkiraan Dinas Pariwisata DIY, pergerakan wisatawan saat Lebaran diprediksi mencapai sekitar 4 juta orang, dengan Sleman menjadi salah satu tujuan utama.

Untuk itu, pengelola destinasi wisata, khususnya di lereng Merapi, diminta memastikan standar keselamatan terpenuhi, termasuk bagi pengelola jeep wisata dan homestay.

“Kami mohon pengelola wisata menyiapkan standar keselamatan, wisatawan mematuhi rambu dan arahan, serta masing-masing meningkatkan kewaspadaan karena kita berada di wilayah rawan bencana,” ujarnya.

Terkait aktivitas Gunung Merapi, masyarakat dapat memantau perkembangan melalui aplikasi Simantap yang tersedia di Play Store. Sementara informasi kebencanaan di Sleman juga dapat diakses melalui Pusdalops BPBD Sleman, termasuk layanan WhatsApp resmi.

“Berdasarkan rilis BMKG, kami mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dan mengantisipasi risiko bencana akibat cuaca ekstrem hidrometeorologi,” pungkas Haris.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta Warjono menyampaikan wilayah DIY cuaca ekstrem dalam beberapa hari belakangan diakibatkan adanya dinamika atmosfer.

Disebutnya, hal tersebut mendung pertumbuhan awan hujan di sepanjang Pulau Jawa.

“Suhu muka di Laut Jawa dan Samudera Hindia Selatan Jawa terpantau relatif hangat antara 26-28 celcius. Kondisi ini bisa meningkatkan suai uap air ke atmosfer,” pungkasnya. (Hadid Husaini).

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page