Protes Keras Program MBG di Salatiga, “Jangan Anggap Ini Gratis!”

Avatar of Aurelia
Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Sekolah SD Negeri Dukuh 05 dan Kepala SPPG Sawahan Saat Menunjukkan Menu MBG.(rasikafm.com)

Salatiga, Kabarterdepan.com – Jagat maya kembali dihebohkan oleh aksi protes keras dari seorang tenaga pendidik di Salatiga terkait kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebuah video yang diunggah oleh akun TikTok @lantaranofficial16 pada Minggu (1/3/2026) mendadak viral setelah menampilkan sosok Kepala Sekolah SD Negeri Dukuh 05, Jumarti.

Dalam video yang telah ditonton ribuan kali tersebut, Jumarti tampak tak kuasa menahan amarahnya saat mendapati buah jeruk yang kondisinya busuk serta kualitas daging yang dianggap tidak layak untuk dikonsumsi anak didik.

Aksi ini menjadi sorotan tajam karena menyuarakan keresahan orang tua murid mengenai standar kesehatan dan gizi program nasional tersebut.

Aksi protes Jumarti terekam sangat emosional. Ia tidak ingin anak-anak di sekolahnya menjadi korban dari kelalaian pihak penyedia makanan (vendor).

Baginya, kesehatan siswa adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar dengan alasan apa pun, termasuk alasan bahwa program ini diberikan secara cuma-cuma.

Jumarti bahkan menyebutkan bahwa ini bukan kali pertama ia menemukan kejanggalan pada paket makanan MBG.
Sebelumnya, ia mengaku pernah menemukan ulat hingga benda asing seperti sekrup di dalam makanan.

“Ini tolong diambil, dan saya tidak mau terima. Saya sudah berkali-kali mbak, pertama ada ulatnya. Habis ini bagaimana? Ada skrupnya. Habis ini bagaimana? Sekarang ada seperti ini. Ini sudah, sudah telat, jelek. Jelek sekali,” tegas Jumarti dalam rekaman video tersebut.

Soroti Pemotongan Gaji Guru, Jumarti Minta Vendor MBG Tak Main-Main dengan Gizi Siswa

Jumarti juga menekankan aspek anggaran. Ia mengingatkan bahwa dana Rp15.000 per porsi tersebut bukanlah pemberian cuma-cuma, melainkan berasal dari pajak rakyat dan pemotongan gaji para guru.

“MBG jangan dianggap gratis. Rp15.000 Itu pak jatuh dari rakyat, dari guru lho. Gajinya sudah dipotong. Gaji kami yang dulu dipotong 15%. Sekarang 16%. Yang kemarin dipotong 5% sekarang jadi 6%. Karena untuk MBG,” ujarnya.

Merespons video viral tersebut, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sawahan langsung bergerak cepat. Kepala SPPG Sawahan ,Sarah Alfi Maiza, memberikan klarifikasi terkait insiden buah busuk yang sampai ke tangan siswa SDN Dukuh 05.

Sarah mengakui adanya sekitar 8 hingga 10 buah jeruk yang lolos dari pengawasan saat proses pengemasan. Ia berdalih hal tersebut terjadi karena faktor kelelahan dan kurang telitinya petugas di bagian pemorsian.

“Untuk buah yang busuk dan lolos, terdapat waktu itu ada 8-10 buah. Itu waktu di bagian pemorsian, itu kan ada mikanya ya Pak, sudah kami sortir, tapi ternyata ketumpuk-tumpuk gitu Pak, jadi ternyata ada yang gembur dan kami kurang peliti gitu Pak. Masih ada sedikit yang kelolosan,” ujar Sarah Alfi Maiza.

Pihak SPPG berkomitmen untuk melakukan perbaikan menyeluruh, termasuk melakukan penyortiran ulang sebanyak tiga kali mulai dari tahap persiapan, memasak, hingga pemorsian guna memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.

Meski sempat viral dengan nada protes yang keras, Jumarti menyatakan bahwa tujuannya merekam video tersebut adalah sebagai bahan evaluasi dan bukti nyata jika kelak terjadi komplain serupa. Ia mengakui bahwa program MBG sebenarnya sangat bermanfaat bagi siswa yang sebelumnya sering lemas karena tidak sarapan.

Pasca-protes tersebut, Jumarti menyebutkan adanya perubahan positif pada kualitas makanan yang dikirimkan ke sekolahnya. Pihak yayasan SPPG pun telah datang langsung untuk meminta maaf dan mendengarkan masukan dari pihak sekolah.

“Saya kritik, mereka sudah berbaik, saya juga menilai baik, orang tua menilai baik. Jadi, kerjasama kami itu baik-baik, tidak yang seperti di medsos,” jelas Jumarti pada Senin(2/3/2026).

Ia juga berharap, memasuki bulan Ramadan, kualitas makanan tetap terjaga agar nutrisi anak-anak tetap terpenuhi saat dibawa pulang untuk berbuka puasa.

“Karena puasa anak-anak juga puasa, supaya nanti dibawa pulang, itu tidak basi, saya minta yang baik. Tidak harus dengan lengkap bermacam-macam, tiga macam-macam yang penting itu lengkap dan itu baik untuk sore, itu sudah bagus,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan program MBG di Indonesia agar lebih memperketat pengawasan terhadap vendor dan memastikan bahwa setiap rupiah dari uang rakyat benar-benar menjadi gizi yang berkualitas bagi generasi penerus bangsa.

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page