
Sidoarjo, KabarTerdepan.com – Di sebuah rumah kawasan Perumahan Citra Garden, Kecamatan Buduran, Sidoarjo tersimpan peninggalan bersejarah yang tak ternilai harganya. Sebuah mushaf Al-Qur’an berusia sekitar dua abad, ditulis tangan di lingkungan keraton Jawa dan berhias tinta emas asli, kini menjadi koleksi pribadi Erwin Dian Rosyidi.
Mushaf kuno ini diyakini berasal dari masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana IV dan menjadi bukti kejayaan seni tulis Islam di tanah Jawa.
Mushaf kuno tersebut bukan sekadar kitab suci, melainkan karya agung yang lahir dari tradisi intelektual dan spiritual keraton. Penulisnya adalah Ki Atma Perwita, abdi dalem dari Keraton Surakarta Hadiningrat, yang menyalin ayat demi ayat Al-Qur’an atas titah langsung sang raja.
Keberadaan mushaf ini memperlihatkan bagaimana lingkungan keraton pada masa itu tidak hanya menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan, tetapi juga pusat pengembangan seni kaligrafi Islam yang bernilai tinggi.
Erwin mengisahkan, proses untuk mendapatkan mushaf tersebut bukan perkara mudah. Ia harus melalui pencarian panjang hingga akhirnya pada 2024 mushaf itu resmi menjadi bagian dari koleksinya.
“Prosesnya tidak singkat. Ada tahapan yang harus saya lalui hingga akhirnya bisa memiliki mushaf ini. Saya bersyukur karena dalam usia sekitar dua ratus tahun, kondisinya masih sangat baik dan tetap bisa dibaca,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Daya Tarik Mushaf Kuno
Secara fisik, mushaf menggunakan kertas kuno dengan karakter serat yang khas. Tulisan tangan di setiap halaman tampak konsisten, presisi, dan terjaga proporsinya, menunjukkan kepiawaian sang penulis.

Erwin menilai gaya hurufnya memiliki identitas unik. Meski sepintas menyerupai khat Naskhi, terdapat detail yang berbeda dari pakem Timur Tengah.
“Kalau diamati lebih detail, bentuk hurufnya tidak sepenuhnya sama dengan Naskhi standar. Ada sentuhan lokal yang kuat, kemungkinan merupakan gaya khas penulisan Al-Qur’an di lingkungan Keraton Surakarta pada masa itu,” jelasnya.
Keindahan mushaf semakin terasa pada setiap pergantian juz. Iluminasi bermotif batik menghiasi halaman dengan komposisi simetris dan penuh ketelitian. Bingkai hiasannya dilapisi tinta emas yang hingga kini masih memancarkan kilau, terutama pada bagian awal Surah Al-Kahfi.
Menurut Erwin, unsur emas tersebut menjadi daya tarik utama sekaligus penanda status penting mushaf di lingkungan keraton.
“Di setiap pergantian juz terdapat lukisan ornamen. Pada bagian akhir ayat dan tepi iluminasi ada bingkai lurus berlapis tinta emas. Berdasarkan keterangan yang saya terima dari peneliti, itu emas asli, meskipun saya tidak mengetahui kadar pastinya,” ungkapnya.
Ia menyebut mushaf tulisan tangan Ki Atma Perwita sangat langka. Berdasarkan informasi yang ia himpun, hanya terdapat tiga mushaf sejenis yang ditemukan di Indonesia.
Salah satunya tersimpan di lingkungan keraton di Yogyakarta dan dikenal sebagai Kanjeng Kiai Qur’an. Sementara satu mushaf lainnya berada di Museum Purna Bhakti Pertiwi, kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
“Sepengetahuan saya, mushaf tulisan tangan Ki Atma Perwita yang ditemukan di Indonesia ada tiga. Salah satunya yang sekarang saya rawat ini,” katanya.
Kini, mushaf kuno tersebut bukan hanya koleksi pribadi, melainkan saksi sejarah kejayaan Islam dan seni kaligrafi Jawa pada masanya.
Di balik lembaran kertas tua dan kilau tinta emasnya, tersimpan jejak spiritual, ketekunan, serta warisan budaya yang melintasi generasi dan tetap terjaga hingga hari ini. (Azies)
