
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Bukit Jubel, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, berdiri sebuah masjid yang tak biasa.
Dari kejauhan, bangunan itu tampak seperti kapal pesiar yang tengah berlabuh tenang di lautan hijau perbukitan. Itulah Masjid Ar Rahman, masjid unik yang berada di halaman Panti Asuhan Villa Durian Doa Yatim Sejahtera.
Pagar besi mengelilingi bangunan seluas 45 x 25 meter persegi itu, lengkap dengan hiasan pelampung yang semakin menegaskan identitasnya sebagai kapal.
Dinding kanan dan kiri dipasangi jendela-jendela lebar, dengan tambahan jendela kecil di bawahnya. Saat siang hari, cahaya matahari bebas menerobos masuk, membuat ruang dalam masjid terang tanpa perlu banyak lampu.
Interior Masjid Ar Rahman Tampak Seperti Kapal
Tak hanya bagian luar yang memikat, interior masjid pun dirancang menyerupai kapal sungguhan. Kompas, alat kemudi, hingga jangkar menjadi bagian dari ornamen yang memperkuat konsep bahtera. Setiap sudutnya seperti mengajak pengunjung membayangkan diri sedang berada di atas kapal yang berlayar.
Istri Pengasuh Panti Asuhan Villa Durian Doa Yatim Sejahtera, Dr. Hj. Sutik.,SPd.,MPd saat ditemui menuturkan bahwa pembangunan masjid ini bukanlah proses singkat. Butuh waktu enam tahun sejak dimulai pada 2015 hingga akhirnya bisa difungsikan.
“Masjid kapal ini kita mulai membangun insya Allah sekitar tahun 2015. Jadi alhamdulillah dan saat ini sudah bisa berfungsi. Diantaranya yang di lantai dasar ini kita fungsikan untuk kamar perempuan dan balita dan yang di lantai dua ini fungsi untuk tempat ibadah,” kata Sutik, Sabtu (28/2/2026) pagi.
Masjid ini memiliki empat lantai dengan fungsi yang berbeda di setiap tingkatnya. Lantai dasar dimanfaatkan sebagai asrama, khususnya untuk perempuan dan balita. Lantai dua menjadi ruang utama ibadah. Sementara lantai tiga dan empat difungsikan sebagai aula serbaguna.
“Masjid berupa kapal ini, ada filosofinya yaitu adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi bahtera penyelamat terutama untuk para penyandang permasalahan sosial,” ungkapnya.

Filosofi itu terasa selaras dengan keberadaan masjid di lingkungan panti asuhan. Bangunan ini bukan sekadar tempat salat, melainkan simbol harapan—sebuah bahtera yang diharapkan mampu mengantarkan penghuninya menuju kehidupan yang lebih baik.
“Kemudian yang di lantai tiga empat itu bisa fungsi untuk semacam aula. Jadi ketika kita ada kegiatan-kegiatan yang membutuhkan tempat seperti aula yang di lantai tiga empat itu bisa kita fungsikan,” tuturnya.
Keberadaan Masjid Ar Rahman tak hanya menjadi kebanggaan penghuni panti. Masyarakat sekitar hingga para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pacet juga dapat menunaikan ibadah di sana, terutama saat momen-momen istimewa.
“Jadi selain untuk para penghuni di Villa Doa sendiri terutama di hari Jumat dan salat Ied itu biasanya warga di sekitar sini ataupun para pengunjung tempat wisata bisa ikut gabung di tempat ini,” bebernya.
Suasana semakin hidup saat Ramadan tiba. Selain salat lima waktu, berbagai kegiatan keagamaan digelar untuk mengisi bulan suci, termasuk tadarus, tarawih, hingga kajian untuk anak-anak.
“Jadi untuk kegiatan ramadan kita selain salat lima waktu kita ada kegiatan tadarus dan juga salat tarawih dan ada kajian sore kita untukkan terutama untuk yang usia anak-anak. Jadi selama ramadan setiap jam lima sore kita ada kajian untuk anak-anak,” pungkasnya.
Di tengah sejuknya udara Pacet dan megahnya siluet Welirang, Masjid Ar Rahman berdiri bukan sekadar sebagai bangunan unik berbentuk kapal pesiar.
Ia adalah simbol perjalanan, tempat berlabuh, sekaligus bahtera harapan bagi mereka yang ingin menemukan arah dan tujuan hidup.
