Lindungi Generasi Digital, Kemkomdigi Luncurkan Layanan DARA, Solusi Privat Atasi Kecanduan Gim pada Anak

Avatar of Aurelia Salsabila Savira
Peluncuran Layanan Digital Addiction Response Assistance (DARA)
Menkomdigi Meutya saat memberikan Keynote Speech dalam Launching Digital Addiction Response Assistance.(komdigi.go.id)

Jakarta, Kabarterdepan.com – Layanan Digital Addiction Response Assistance (DARA) diluncurkan sebagai garda terdepan untuk menangani adiksi digital secara profesional dan humanis. Di tengah kekhawatiran para orang tua terhadap perubahan perilaku anak akibat paparan layar yang berlebihan, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital resmi menghadirkan sebuah “oase” bantuan.

Bertempat di kawasan ikonik Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat (27/02/2026), layanan DARA diperkenalkan sebagai ruang konsultasi yang aman, privat, dan inklusif.

Kehadiran inovasi ini menjadi jawaban konkret atas kegelisahan kolektif masyarakat yang merasa kehilangan kendali atas interaksi digital putra-putri mereka di rumah.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa proyek DARA tidak lahir dari ruang hampa.

Layanan ini dirancang khusus berdasarkan masukan dan keluhan nyata dari para orang tua yang merasa “terpukul” dengan kondisi anak-anak yang mulai menunjukkan gejala kecanduan gim berat.

Meutya menegaskan bahwa pemerintah tidak bermaksud memusuhi industri gim yang sedang tumbuh pesat dan memicu kreativitas, namun negara wajib memberikan proteksi ketika teknologi mulai berdampak negatif pada kesehatan mental generasi muda.

Mengenal DARA, Ruang Aman bagi Keluarga Indonesia untuk Pulih dari Adiksi Digital

“Para orang tua tentu sangat terusik dengan kondisi ini. Di satu sisi, kita tahu gim bisa memicu kreativitas, sehingga kita tidak menutup industri gim. Namun di saat bersamaan, negara harus hadir membantu anak-anak kita yang terpapar adiksi,” ujar Meutya Hafid.

DARA hadir bukan untuk menghakimi para pemain gim, melainkan sebagai “teman bercerita” bagi mereka yang sudah berada di ambang batas ketergantungan.

Sebagai karya asli talenta muda bangsa, platform ini mengedepankan pendekatan psikologis yang santun agar anak-anak tidak merasa terintimidasi saat mencari bantuan.

Salah satu keunggulan layanan DARA adalah kemudahan aksesnya. Menyadari bahwa isu adiksi seringkali dianggap tabu atau memalukan bagi sebagian keluarga, Kemkomdigi menyediakan kanal yang sangat privat. Masyarakat dapat berkonsultasi secara daring melalui laman resmi https://adiksi.igrs.id/.

Selain itu, bagi mereka yang lebih nyaman menggunakan aplikasi pesan singkat, layanan konsultasi juga tersedia melalui WhatsApp Indonesia Game Rating System (IGRS) di nomor 0811806860.

Melalui jalur ini, orang tua bisa mendapatkan panduan langsung dari para ahli mengenai langkah-langkah mitigasi saat anak mulai menunjukkan gejala penarikan diri dari lingkungan sosial akibat gim.

Pemerintah berharap, dengan adanya kanal komunikasi yang tidak kaku ini, anak-anak yang mengalami adiksi digital tidak lagi merasa sendirian dan orang tua memiliki kompas yang jelas untuk mengarahkan kembali perilaku anak mereka.

Langkah progresif Kemkomdigi ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Menteri PPPA, Arifah Fauzi, yang turut hadir dalam peluncuran tersebut, menekankan bahwa persepsi masyarakat terhadap kecanduan gim harus diubah.

Ia menegaskan bahwa adiksi bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan kondisi medis dan psikologis yang memerlukan pendampingan tepat.

“DARA ini penting karena menempatkan keluarga sebagai garda terdepan. Ketika orang tua mendapatkan panduan yang praktis dan tidak menghakimi, keluarga akan lebih mampu menjaga keseimbangan. Anak tetap dapat menikmati gim secara sehat tanpa mengorbankan haknya,” kata Arifah.

Sinergi antara Kemkomdigi dan KemenPPPA ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang lebih ramah anak di Indonesia.

Fokus utama dari program ini adalah pemulihan dan edukasi, di mana anak tetap diberikan ruang untuk mengeksplorasi teknologi namun dalam koridor yang sehat dan terpantau.

Peluncuran DARA menjadi bukti nyata bahwa transformasi digital di Indonesia tidak hanya bicara soal infrastruktur dan kecepatan internet, tetapi juga soal aspek kemanusiaan dan perlindungan pengguna.

Pemerintah berkomitmen bahwa setiap anak yang terpapar adiksi memiliki hak untuk pulih tanpa harus menanggung stigma negatif dari lingkungan sekitarnya.

Dengan adanya DARA, Indonesia kini memiliki sistem pendukung (support system) yang lebih komprehensif. Inovasi ini diharapkan mampu menekan angka gangguan kesehatan mental akibat adiksi digital dan memastikan bahwa bonus demografi Indonesia di masa depan adalah generasi yang cerdas teknologi namun tetap sehat secara sosial dan psikologis.

Kini, bola ada di tangan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas ini demi masa depan buah hati yang lebih cerah di tengah kepungan dunia siber.

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page