
Sragen, kabarterdepan.com – Musim penghujan menjadi tantangan serius bagi para petani melon. Tingginya intensitas curah hujan serta minimnya paparan sinar matahari berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas buah yang dihasilkan.
Salah satu kendala utama yang dihadapi petani adalah meningkatnya serangan jamur patogen. Kondisi lahan yang lembap memicu munculnya penyakit busuk batang, layu bakteri, hingga busuk buah melon.
“Serangan penyakit tersebut tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga berisiko menyebabkan gagal panen apabila tidak segera ditangani,” ujar Marjuki, salah satu petani milenial di Kecamatan Mondokan, Sragen, Jumat (27/2/2026).
Ia menjelaskan, kurangnya sinar matahari selama musim hujan membuat proses fotosintesis tanaman tidak berlangsung maksimal. Dampaknya, pertumbuhan buah menjadi kurang optimal dan masa panen cenderung mundur dari jadwal yang telah ditentukan.
“Saat musim penghujan seperti ini, ukuran buah pun berpotensi lebih kecil dibandingkan saat musim kemarau,” kata Juki.
Antisipasi Petani Melon
Meski demikian, sejumlah petani melon tetap berupaya melakukan berbagai strategi antisipasi, seperti penyemprotan fungisida secara terukur serta pemilihan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Marjuki, yang juga anggota Forum Komunikasi Petani Milenial Provinsi Jawa Tengah, menyebut tantangan tersebut menjadi perhatian serius para petani milenial di Kabupaten Sragen setiap memasuki musim penghujan.
Namun, lanjutnya, permasalahan cuaca yang kerap dikeluhkan petani dapat diantisipasi dengan berkoordinasi bersama penyuluh pertanian di tingkat kabupaten maupun provinsi, sehingga risiko dampak cuaca dapat diminimalkan.
“Kami memiliki wadah untuk berdiskusi dengan sesama petani milenial hingga penyuluh pertanian yang terus berinovasi di bidang ketahanan pangan, terutama saat terjadi kendala dalam budidaya melon,” terangnya.
Dampak Cuaca Ekstrem
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan sejumlah BUMDes di Kabupaten Sragen. Namun, sistem budidaya greenhouse dinilai lebih aman dari ancaman dampak cuaca ekstrem bila dibandingkan metode konvensional di lahan terbuka.
“Budidaya melon dengan sistem greenhouse memberikan rasa yang lebih aman bagi pengelola. Meski hasil sedikit menurun, tanaman tetap bisa dipanen,” ujar Ari, Kepala Desa Jembangan, Kecamatan Plupuh.

Meskipun begitu, setelah usai dihadapkan dengan kendala cuaca, Ia berharap harga melon premium di pasaran tetap stabil seperti hari-hari biasanya.
Musim penghujan memang membawa tantangan tersendiri bagi budidaya melon. Namun, dengan manajemen budidaya yang tepat serta pengawasan intensif, para petani tetap optimistis dapat menjaga produksi dan kualitas buah agar memenuhi permintaan pasar. (Masrikin)
