Kepergian John Tobing Pencipta ‘Darah Juang’ Tinggalkan Duka bagi Keluarga dan Sahabat

Avatar of Ahmad
Mendiang John Tobing saat disemayamkan di rumah duka RS Bethesda Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)
Mendiang John Tobing saat disemayamkan di rumah duka RS Bethesda Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Kepergian mantan aktivis 98 sekaligus pencipta lagu ‘Darah Juang’, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, menjadi kehilangan besar bagi banyak pihak.

Puluhan hingga ratusan rekan seperjuangannya tampak hadir memberikan penghormatan terakhir saat almarhum disemayamkan di Rumah Duka Arimatea RS Bethesda Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut.

Kesaksian Putra John Tobing

Duka mendalam juga dirasakan oleh ketiga anaknya, yakni Gopas Kobar Syang Tobing, Tania, dan Sandio Matia Pawitra. Sandio diketahui sebelumnya dikenal dengan nama Dio.

Putra bungsunya, Gopas Kobar Syang Tobing, menyebut sang ayah sebagai sosok yang hebat dan penuh keteladanan. Di usianya yang baru 18 tahun, ia mengaku sangat terpukul atas kepergian ayahnya.

“Saya baru 18 tahun. Saya merasa masih sangat butuh papah, terutama untuk perkuliahan nanti. Biasanya papah duduk di teras sambil ngopi dan merokok, saya temani,” ujar Gopas.

Menurutnya, sang ayah bukan pribadi yang mudah bercerita tanpa dipancing. Namun belakangan, ia mulai banyak mendengar kisah perjuangan ayahnya saat menjadi aktivis 1998.

“Papa cerita pernah punya organisasi, gerakan massa untuk mencari kebenaran dan keadilan. Saya sadar itu bukan cerita kosong. Saat papa sakit pun, teman-temannya tidak berhenti datang menyemangati,” katanya.

Sementara itu, Sandio Matia Pawitra mengungkapkan bahwa kebersamaannya dengan sang ayah mungkin tidak sebanyak yang dirasakan kakak dan adiknya.

Hal itu membuatnya menyimpan sedikit penyesalan.

“Kalau dibandingkan kakak dan adik, mungkin pengalaman saya bersama papa tidak sebanyak mereka. Belakangan ini saya sedikit menyesal, entah kenapa dulu saya tidak bisa sedekat mereka,” ucapnya.

Ia menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang tegas dan teguh pada prinsip. Bahkan, ia merasa memiliki karakter yang serupa dengan sang ayah.

“Papah itu tegas dan kuat pendirian. Saya juga begitu. Tiga kali bertemu, tiga kali tidak ada yang mau mengalah,” katanya.

Mengenang John Tobing

Meski dikenal keras, John disebut kerap mengapresiasi perkembangan anak-anaknya, bahkan dari hal kecil. Sandio mengenang momen saat dirinya belajar bersepeda.

“Awalnya papah sering memarahi saya karena belum bisa. Tapi waktu papah kerja, saya coba belajar sendiri dan tiba-tiba bisa. Saya pamerkan ke papah, lalu diapresiasi dan diberi uang Rp20 ribu,” kenangnya.

IMG 20260227 WA0245
3 anak dari aktivis 98 mendiang John Tobing. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Ia juga menegaskan bahwa ayahnya tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya, termasuk dalam hal menjadi aktivis.

“Papah pernah tanya, ‘Kamu nggak mau jadi aktivis?’ Saya jawab belum kepikiran. Papah tidak memaksakan, beliau membiarkan anaknya memilih jalan sendiri,” ujarnya.

Sebelumnya, John Tobing meninggal dunia usai menjalani perawatan akibat penyakit kritis di RSA UGM, Rabu (25/2/2026).

Ia dikenal luas sebagai salah satu simbol perlawanan pada era Reformasi 1998 dan pencipta lagu ‘Darah Juang’ yang hingga kini masih kerap dinyanyikan dalam berbagai aksi perjuangan. (Hadid Husaini)

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page