
Sidoarjo, KabarTerdepan.com – Proses penjaringan bakal calon kepala desa (Bacakades) di Kabupaten Sidoarjo memasuki tahap krusial.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) melaksanakan seleksi Computer Assisted Test (CAT) sebagai mekanisme penyaringan bagi desa yang jumlah pendaftarnya melebihi lima orang.
Seleksi berbasis komputer ini menjadi tahapan wajib setelah para pendaftar dinyatakan lolos administrasi. Hasilnya akan menentukan lima besar calon yang berhak melaju ke tahap penetapan calon kepala desa tetap.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahan Desa PMD Sidoarjo, Hernita, menjelaskan bahwa sistem penilaian tidak hanya bertumpu pada nilai CAT semata, melainkan menggunakan skema akumulatif dari empat komponen utama.
“Penentuan peringkat dilakukan secara komprehensif. Ada empat indikator yang dinilai, yakni pengalaman kerja di lembaga pemerintahan, tingkat pendidikan, usia, dan nilai hasil CAT,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Ia memaparkan, komponen pengalaman kerja menjadi salah satu poin penting karena mencerminkan rekam jejak pengabdian peserta di pemerintahan.

Sementara itu, tingkat pendidikan memiliki bobot berjenjang, mulai dari lulusan SMP (15 poin), SMA (17 poin), S1 (25 poin), S2 (27 poin), hingga S3 (29 poin).
Untuk aspek usia, seluruh peserta mendapatkan nilai flat sebesar 50 poin sebagai bentuk asas keadilan tanpa membedakan rentang umur.
Adapun nilai CAT diperoleh dari 150 soal yang terdiri atas 100 soal bidang pemerintahan, 25 soal Bahasa Indonesia, dan 25 soal pengetahuan umum.
6 Bacalon Kades Pulungan Sidoarjo
Salah satu desa yang menjadi sorotan adalah Desa Pulungan, Kecamatan Sedati. Tahun ini, jumlah pendaftar mencapai enam orang, meningkat signifikan dibanding periode sebelumnya yang minim peminat.
Petahana Desa Pulungan, Deki Andianto, kembali mencalonkan diri setelah dua periode menjabat. Ia mengaku maju lagi untuk melanjutkan program pembangunan yang belum tuntas, meski mengakui tantangan fiskal desa saat ini tidak ringan.
“Anggaran desa mengalami penurunan cukup signifikan, sekitar 58 persen dari dana desa. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi siapa pun yang nantinya dipercaya masyarakat,” kata Deki usai mengikuti ujian.
Ia juga menilai proses seleksi berjalan transparan, terutama karena peserta telah mendapatkan pembekalan sehari sebelum tes dilaksanakan.
Sementara itu, Muhammad Munir hadir sebagai salah satu penantang dengan membawa gagasan pembangunan partisipatif. Ia menilai desa harus dibangun melalui kolaborasi aktif antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Saya ingin membangun desa secara bersama-sama. Keterlibatan warga dan organisasi desa menjadi kunci agar pembangunan tidak hanya bersifat top-down,” tegas Munir.
Munir juga mengapresiasi sistem CAT yang dinilai objektif dan transparan karena hasilnya dapat langsung diketahui peserta setelah ujian selesai.
Di Desa Sepande, Kecamatan Candi, dinamika Pilkades juga menarik perhatian dengan tampilnya Anik Fauziyah sebagai kandidat perempuan.
Ia menyatakan siap menghadirkan pendekatan kepemimpinan yang inklusif dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan warga.
“Saya ingin semua warga merasa dirangkul. Kerukunan dan kebersamaan menjadi fondasi utama dalam membangun desa,” ungkap Anik.
Ia mengaku optimistis menghadapi tahapan seleksi karena panitia kabupaten telah mempersiapkan pelaksanaan tes secara tertib dan profesional.
Sesuai timeline dalam Surat Edaran Sekretaris Daerah Sidoarjo, hasil rekapitulasi peringkat lima besar dari BKD akan diserahkan kepada panitia desa paling lambat sehari setelah pelaksanaan tes. Selanjutnya, penetapan calon kepala desa dijadwalkan berlangsung pada 1 Maret 2026.
Pilkades 2026 di Kabupaten Sidoarjo diharapkan menjadi momentum lahirnya pemimpin desa yang kompeten, adaptif terhadap keterbatasan anggaran, serta mampu mendorong tata kelola pemerintahan desa yang transparan dan akuntabel.(Azies)
