
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Dinamika harga kebutuhan pokok di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, mulai menunjukkan pergerakan yang mengkhawatirkan. Memasuki momentum Ramadan dan menyongsong Idul Fitri, sejumlah komoditas pangan utama seperti cabai, bawang merah, daging ayam, gula pasir, hingga minyak goreng tercatat mengalami kenaikan harga secara bertahap.
Kenaikan ini mulai membayangi aktivitas jual beli di pasar tradisional terbesar di wilayah Mojokerto tersebut. Meski para pedagang menilai kenaikan saat ini masih dalam batas wajar, keresahan mengenai penurunan daya beli masyarakat mulai terasa nyata. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, Paar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, pada Kamis, (26/2/2026).
Salah satu pedagang daging ayam, Heri Purnomo, yang telah berjualan sejak tahun 2007, mengungkapkan bahwa saat ini harga daging ayam berada di angka Rp40.000 per kilogram. Menurutnya, kenaikan ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan merangkak naik sedikit demi sedikit.
“Naiknya itu tidak langsung melonjak Rp5.000. Per harinya naik Rp1.000, dari harga awal Rp35.000, lalu ke Rp36.000, Rp37.000, sampai sekarang menyentuh Rp40.000,” ujar Heri saat ditemui di lapaknya.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan di tingkat pedagang pasar merupakan imbas langsung dari naiknya harga ambil di tingkat pemasok. Kondisi ini memaksa pedagang untuk menyesuaikan harga jual agar tidak merugi, meskipun risiko penurunan volume pembelian dari konsumen tidak dapat dihindari.
Dampak dari kenaikan harga ayam yang mencapai Rp40.000 ini mulai mengubah pola konsumsi warga Mojokerto secara signifikan. Heri mengamati adanya tren penurunan volume pembelian yang dilakukan oleh masyarakat.
“Biasanya orang yang bawa (beli) 5 kilogram, sekarang dikurangi separuh jadi 2,5 kilogram saja,” jelasnya menggambarkan penurunan daya beli pelanggan.
Heri berharap agar menjelang Lebaran nanti, tidak ada lagi lonjakan harga yang terlalu drastis. Baginya, stabilitas harga adalah kunci utama karena hubungan antara pedagang dan konsumen bersifat timbal balik.
Sebagai pedagang, Heri berharap pemerintah atau pihak terkait dapat menjaga stabilitas harga. Ia khawatir jika harga melonjak terlalu signifikan, beban konsumen akan semakin berat, terutama bagi ibu rumah tangga yang memiliki anggaran belanja terbatas.
“Kasihan konsumen, mereka butuh ayam, kita juga butuh mereka. Kalau bawa uang Rp300.000 untuk belanja semua kebutuhan, tapi harga ayam terlalu tinggi, nanti jatah beli sayur dan lainnya jadi berkurang,” tambahnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas sembilan bahan pokok (sembako). Di toko milik Anton, kenaikan harga mulai menyasar gula pasir dan minyak goreng.
Gula pasir yang sebelumnya dibanderol Rp16.000 per kilogram kini naik menjadi Rp17.000. Sementara itu, minyak goreng mengalami kenaikan sebesar Rp1.000, dari harga Rp18.500 menjadi Rp19.500.
“Yang mulai merangkak naik itu gula sama minyak goreng. Tapi untuk beras, sejauh ini masih stabil dan tidak ada kenaikan,” tutur Anton.
Anton menjelaskan bahwa para pedagang sembako di Pasar Tanjung hanya mengikuti fluktuasi harga Delivery Order (DO) dari pusat distributor. Untuk wilayah Mojokerto, patokan harga utama biasanya merujuk pada pergerakan harga di Surabaya.
“Kita ini kan hanya mengikuti harga DO, patokan kita dari Surabaya. Jadi kalau dari sana naik, ya di sini ikut naik,” ungkapnya.
Ia juga mencatat adanya fenomena musiman pada awal tahun ini. Menurut pengamatannya, pasar sempat ramai di awal masa puasa (persiapan), namun memasuki pertengahan bulan seperti sekarang, suasana pasar cenderung kembali sepi.
Harapan Stabilitas Harga di Kota Mojokerto Menjelang Idul Fitri
Baik pedagang daging maupun sembako sama-sama menaruh harapan besar agar harga tidak terus merangkak naik menjelang Idul Fitri. Berdasarkan tren tahun-tahun sebelumnya, lonjakan harga yang paling tajam biasanya baru akan terjadi pada H-10 Lebaran.
“Harapannya ya sudah, jangan naik lagi harganya. Biar masyarakat tidak mengeluh terus kalau belanja,” kata Anton.
Stabilitas harga dianggap sebagai kunci agar roda ekonomi di Pasar Tanjung tetap berputar. Pedagang berharap intervensi pasar atau pemantauan stok dapat dilakukan secara rutin agar lonjakan harga yang “mencekik” tidak terjadi di akhir bulan mendatang.
Kini, para pedagang dan warga Mojokerto hanya bisa menunggu dan berharap agar gejolak harga pangan ini segera mereda sebelum perayaan Lebaran tiba.
