
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Tabir gelap peredaran narkotika di wilayah hukum BNN Kota Mojokerto sepanjang tahun 2025 terungkap dengan angka yang mengejutkan. Berdasarkan data yang dihimpun, Tim Asesmen Terpadu (TAT) mencatat sebanyak 388 klien terlibat dalam pusaran barang haram tersebut.
Dari jumlah tersebut, Jombang muncul sebagai titik paling rawan, mengungguli wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto dalam peta persebaran kasus.
Data statistik menunjukkan disparitas yang mencolok antarwilayah. Dari total 388 klien TAT pada 2025, Jombang menyumbang angka tertinggi dengan 215 kasus. Posisi kedua ditempati Kabupaten Mojokerto dengan 139 kasus, sementara Kota Mojokerto mencatat 34 kasus.
Memasuki awal tahun 2026, tren sementara mencatat 12 klien TAT, di mana Kota Mojokerto mulai menunjukkan angka dominan yakni 8 kasus, disusul Kabupaten Mojokerto 3 kasus.
Ironisnya, mayoritas mereka yang terjerat berada di rentang usia emas, yakni 25 hingga 40 tahun. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil investigasi dan asesmen BNN, faktor ekonomi dan tuntutan kerja menjadi pemicu utama.
Ketua Rehabilitasi BNN Kota Mojokerto, Fitri, menjelaskan bahwa adiksi bukan sekadar kenakalan, melainkan masalah kesehatan yang kompleks.
“Adiksi atau ketergantungan narkotika adalah penyakit kronis yang kambuhan. Jadi dia sama dengan penyakit diabetes, asma, jantung, yang tidak bisa sembuh 100% tapi dia bisa pulih,” tegas Fitri, Rabu (18/2/2026).
Tuntutan Kerja Jadi Alasan, Gunakan Narkotika sebagai Doping
Banyaknya penyalahguna di usia produktif berkaitan erat dengan penggunaan narkotika sebagai stimulan kerja. Fitri menyoroti bagaimana para pekerja keras di sektor industri dan transportasi mencari jalan pintas untuk bertahan hidup.
“Banyak yang menggunakan sebagai doping karena pekerjaannya yang menuntut tenaga ekstra. Seperti sopir, buruh pabrik, bahkan peternak sapi yang harus memerah susu dari dini hari hingga sore sendirian karena harga jual yang rendah tak mampu membayar tenaga kerja tambahan,” ungkapnya.
Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Secara medis, penggunaan stimulan seperti sabu merusak struktur otak secara permanen.
“Sabu itu dampaknya ke kognitif. Orang kalau sudah pakai sabu, kognitifnya akan rusak. Untuk memulihkan kognitif itu tidak bisa cepat, butuh waktu minimal 6 bulan bagi fungsi kognitif untuk mulai kembali normal,” tambah Fitri.
Di sisi penegakan hukum, BNN terus berupaya memutus rantai peredaran yang kini semakin taktis. Ketua Pemberantasan BNN, Renny, mengungkapkan bahwa klasifikasi antara pengedar dan penyalahguna ditentukan secara ketat melalui proses TAT, terutama terkait jumlah barang bukti (BB).
“Untuk sabu, batasan untuk mendapatkan layanan TAT atau rehabilitasi itu di bawah 1 gram. Namun, jika ditemukan dalam banyak plastik klip meski beratnya kecil, itu bisa mengarah pada indikasi pengedar,” jelas Renny.
Ia juga menyinggung soal harga narkotika yang semakin murah dan menyasar kalangan bawah melalui sistem paket hemat yang masif di lapangan.
“Ada paket hemat sabu, juga Double L (pil koplo) yang harganya hanya Rp10.000 per paket. Peredarannya sangat masif karena harganya terjangkau,” tambah Renny.
Pada tahun 2025, BNN juga mencatat adanya satu klien yang masih berusia remaja. Sinyalemen ini menunjukkan bahwa edukasi pencegahan harus merambah ke institusi pendidikan lebih dalam lagi guna memproteksi generasi muda dari paparan zat sejak dini.
Fitri juga menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap pengguna, terutama bagi kaum perempuan yang sering kali merasa tertekan secara sosial.
“Perempuan menghadapi stigma ganda. Mereka lebih takut mengakses layanan rehabilitasi karena tekanan sosial, padahal kerentanan biologis mereka terhadap zat jauh lebih tinggi dibanding laki-laki,” pungkasnya.
Sebagai langkah penyelamatan, BNN mengimbau agar masyarakat yang memiliki anggota keluarga penyalahguna untuk berani melapor secara sukarela (voluntary). Penanganan di klinik BNN dipastikan tanpa biaya karena seluruh biaya rehabilitasi ditanggung oleh negara, sebagai upaya bersama menyelamatkan generasi produktif dari kehancuran jangka panjang.
