
Kabarterdepan.com – Pernahkah kamu merasa sangat bersemangat untuk olahraga saat ngabuburit, tapi baru lima menit berjalan, tenggorokan rasanya sudah seperti padang pasir? Atau mungkin kamu sering merasa pusing dan sulit konsentrasi di siang hari?
Banyak yang mengira itu adalah efek lapar, padahal sering kali masalah utamanya adalah dehidrasi terselubung. Menjalankan olahraga di bulan Ramadan bukan cuma soal adu otot atau bakar kalori, tapi soal menjadi seorang Hydration Athlete—alias atlet manajemen cairan.
Menjadi Hydration Athlete artinya kamu sangat paham bahwa air adalah bahan bakar utama otak dan ototmu. Dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa aktif bergerak tanpa harus merasa tersiksa karena kehausan.
Baca juga: Rahasia Tubuh Fit Ramadan: Micro-Workouts 7 Menit
Mari kita bedah bagaimana cara menjaga level hidrasi agar tetap optimal selama berpuasa.
1. Mengenal Musuh Utama: Dehidrasi Terselubung
Saat kita berpuasa, tubuh secara alami akan menghemat pengeluaran cairan. Namun, aktivitas fisik seperti olahraga di bulan Ramadan akan memicu penguapan melalui keringat dan pernapasan. Jika kamu memaksakan olahraga intensitas tinggi tanpa strategi yang matang, suhu inti tubuh akan naik dan jantung harus bekerja ekstra keras karena volume darah menurun akibat kekurangan cairan.
Tanda dehidrasi bukan cuma haus. Rasa kantuk yang luar biasa setelah Dzuhur, pegal-pegal yang tidak kunjung hilang, hingga sakit kepala ringan adalah sinyal bahwa sel tubuhmu sedang “kekeringan”. Sebagai seorang Hydration Athlete, fokusmu adalah mencegah sinyal ini muncul dengan cara menabung cairan di waktu yang tepat.
2. Strategi Pre-Hydration: Menabung Cairan Saat Sahur
Kesalahan paling umum adalah meminum dua liter air sekaligus dalam satu waktu saat sahur. Bukannya terhidrasi, tubuhmu justru akan mengirim sinyal ke ginjal untuk segera membuang kelebihan cairan tersebut (efek diuresis), sehingga kamu akan lebih sering bolak-balik ke kamar mandi.
Strategi olahraga di bulan Ramadan yang cerdas dimulai dengan mengonsumsi elektrolit alami. Campurkan sejumput garam laut ke dalam air minummu atau konsumsi buah yang kaya kalium seperti pisang dan semangka saat sahur. Elektrolit berfungsi seperti “magnet” yang mengunci molekul air di dalam sel tubuh lebih lama. Jangan lupa tambahkan sayuran tinggi air seperti timun atau tomat dalam menu sahurmu sebagai cadangan hidrasi internal yang akan dilepaskan perlahan oleh sistem pencernaan.
3. Memilih Olahraga Low-Sweat (Rendah Keringat)
Jika kamu ingin tetap bergerak di siang atau sore hari, pilihlah jenis olahraga yang tidak memicu keringat berlebih. Yoga, Pilates, atau latihan mobilitas adalah sahabat terbaik bagi seorang Hydration Athlete. Olahraga ini fokus pada fleksibilitas, postur, dan kekuatan inti tanpa membuat detak jantung melonjak tajam.
Dengan melakukan gerakan yang tenang, kamu tetap mendapatkan manfaat fisik—seperti hilangnya pegal di punggung akibat kelamaan duduk bekerja—tanpa harus menguras cadangan air tubuh. Jika kamu ingin melakukan sesi yang lebih berat, geserlah jadwalnya ke waktu setelah berbuka atau setelah Tarawih, di mana akses terhadap air minum sudah terbuka kembali.
4. Protokol Rehidrasi: Mengembalikan Cairan yang Hilang
Setelah adzan Maghrib berkumandang, tugas seorang Hydration Athlete adalah melakukan pemulihan. Hindari langsung menenggak air es dalam jumlah banyak karena bisa mengejutkan sistem pencernaan dan memicu kram perut. Mulailah dengan air suhu ruang atau hangat secara bertahap.
Gunakan pola 2-4-2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam, 2 gelas saat sahur). Jika kamu baru saja menyelesaikan sesi olahraga di bulan Ramadan pada malam hari, buatlah minuman isotonik alami sendiri: air putih, perasan jeruk nipis, sedikit madu, dan sejumput garam.
Minuman ini jauh lebih efektif mengembalikan kebugaran dibandingkan minuman sport drink kemasan yang biasanya tinggi gula dan pewarna buatan.
5. Hidrasi Adalah Kunci Performa
Kebugaran di bulan Ramadan adalah hasil dari keseimbangan antara aktivitas fisik dan manajemen nutrisi. Menjadi Hydration Athlete membuatmu lebih sadar akan kebutuhan tubuh dan tidak sekadar ikut-ikutan tren olahraga berat yang mungkin belum tentu cocok dengan kondisi fisikmu saat berpuasa.
Ingat, performa kerjamu di kantor dan kekhusyukan ibadahmu sangat bergantung pada seberapa baik otakmu terhidrasi. Dengan menjaga keseimbangan cairan, kamu tidak hanya akan melewati bulan puasa dengan sehat, tapi juga dengan energi yang tetap penuh hingga hari kemenangan tiba.
