Warga Bantaran Kali Bekasi Siap Direlokasi, Syarat Tanggul Dibangun Maksimal

Avatar of Redaksi
Bantaran Kali Bekasi
Bangunan di bantaran kali Bekasi gang Mawar Kelurahan Margahayu. (Yanso/kabarterdepan.com)

Bekasi, Kabarterdepan.com – Warga pemukiman di Gang Mawar, bantaran Kali Bekasi, menyatakan siap menerima rencana relokasi, dengan syarat pemerintah membangun tanggul penahan banjir secara menyeluruh dan tidak setengah-setengah.

Ketua RW 03 Kelurahan Margahayu, Suwarjo, mengungkapkan bahwa mayoritas warga yang telah ditemui merespons positif terhadap upaya penertiban dan pembangunan tanggul yang akan dilakukan Pemerintah Kota Bekasi. Bahkan, banyak di antaranya menantikan proses relokasi resmi.

“Alhamdulillah respon warga baik. Mereka menginginkan segera ada panggilan resmi untuk prosesnya. Jika rumah atau tempat usaha harus dibongkar, tidak menjadi masalah karena bukan milik pribadi,” ujar Suwarjo kepada wartawan pada Selasa (2/2/2026).

Pada hari yang sama, tim dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA), Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Distaru), serta Lurah Margahayu melakukan tinjauan lokasi sebagai tindak lanjut kunjungan Wali Kota Bekasi.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebagian permukiman warga menjorok hingga 13 meter dari lahan asli hingga bibir kali, bahkan ada yang mencapai 19 meter.

Suwarjo menjelaskan bahwa rencana pembangunan tanggul di kawasan tersebut sebenarnya sudah ada sejak era kepemimpinan Wali Kota Bekasi sebelumnya, dengan desain yang mencakup taman kali dan fasilitas umum yang menarik.

“Desainnya bahkan sudah termasuk konsep apartemen dan taman untuk masyarakat. Namun belum terealisasi. Mudah-mudahan tahun ini bisa menjadi kenyataan karena masyarakat sangat menantinya,” harapnya.

Harapan Warga Bantaran Kali Bekasi

Salah satu warga yang telah tinggal hampir 50 tahun, Sari (72), mengaku sudah tidak tahan menghadapi banjir yang berulang. Ia berharap tanggul yang dibangun mampu menampung debit air hingga 800 meter kubik agar tidak lagi merendam permukiman.

“Banjir terbesar yang saya alami mencapai ketinggian 5 meter, sampai lantai atas rumah terendam. Tahun lalu saja dapur saya roboh karena banjir, menghabiskan biaya perbaikan hingga 100 juta rupiah,” kata pedagang tempe keliling tersebut.

Sari menegaskan, jika pembangunan tanggul tidak dilakukan secara maksimal, lebih baik tidak dilakukan sama sekali. Ia meminta pemerintah memastikan anggaran yang cukup terlebih dahulu agar hasilnya optimal.

“Jangan tanggung-tanggung pembangunan tanggul karena Saat banjir, kami tidak bisa berjualan dan aktivitas masyarakat terganggu parah. Sudah puluhan tahun kami mengalami hal ini,” tegasnya.

Menurutnya, banjir di Gang Mawar kerap terjadi terutama pada musim hujan, bahkan bisa mencapai empat kali dalam setahun. Ketinggian air biasanya berkisar 1,5 hingga 2 meter, dengan puncak ketinggian 5 meter pada kejadian terbesar.

“Pokoknya kami tetap mendukung, selama ini yang terbaik untuk masyarakat. Kami sudah capek dengan banjir yang terus-menerus,” pungkas Sari. (Yanso)

Responsive Images

You cannot copy content of this page