
Sidoarjo, Kabar Terdepan – Ratusan penarik becak di Kabupaten Sidoarjo kini dapat bernapas lega. Sebanyak 200 unit becak listrik resmi disalurkan kepada penarik becak dari 18 kecamatan sebagai bagian dari program pengentasan kemiskinan dan modernisasi transportasi tradisional yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Penyerahan bantuan digelar di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (21/1/2026). Senangnya Penerima Becak Listrik di Kabupaten Mojokerto: Sangat Membantu
Becak listrik tersebut diharapkan menjadi solusi bagi penarik becak, khususnya kalangan lanjut usia, agar tetap dapat bekerja tanpa harus mengandalkan kekuatan fisik secara penuh. https://rri.co.id/nasional/2120491/prabowo-salurkan-becak-listrik-di-sidoarjo
Selain meringankan beban kerja, penggunaan teknologi listrik juga diyakini mampu meningkatkan daya saing transportasi tradisional di tengah perkembangan transportasi modern.
Program ini merupakan inisiatif langsung Presiden Prabowo Subianto yang dijalankan melalui Yayasan GSN, sebuah yayasan sosial yang fokus pada bidang pendidikan, kemanusiaan, dan pengentasan kemiskinan. Bantuan becak listrik menjadi salah satu bentuk konkret kepedulian terhadap kelompok pekerja sektor informal.
Becak Listrik Ringankan Beban Tukang Becak
Ketua Yayasan GSN, Letjen TNI (Purn) Teguh Arief Indratmoko, menegaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai pelengkap kebijakan pemerintah, bukan sebagai pengganti peran negara.
“Kami hadir untuk memperkuat upaya pemerintah dengan menyentuh lapisan masyarakat yang masih membutuhkan dukungan langsung. Penarik becak lansia adalah salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus,” kata Teguh disela-sela peresmian.
Menurutnya, proses pendataan dan seleksi penerima dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan usia. Penarik becak yang sudah lanjut usia menjadi prioritas utama agar mereka tetap dapat mencari nafkah dengan lebih aman dan layak.
“Dengan becak listrik ini, kami berharap mereka bisa bekerja lebih ringan, lebih sehat, dan penghasilannya tetap terjaga,” ujarnya.
Salah satu penerima bantuan, Samur (60), warga Desa Sumorame, Kecamatan Tanggulangin, mengaku perubahan besar langsung ia rasakan sejak menggunakan becak listrik.
Selama lebih dari 20 tahun menarik becak di sekitar Pasar Tanggulangin, ia kerap mengeluhkan kondisi fisik yang semakin menurun.
“Sekarang jauh lebih ringan. Tidak capek seperti dulu karena tidak harus mengayuh terus. Ini sangat membantu kami yang sudah sepuh,” tutur Samur.
Ia memastikan, kehadiran becak listrik tidak berdampak pada kenaikan tarif jasa.
Menurutnya, tarif tetap disesuaikan dengan kemampuan penumpang, sementara pengemudi justru diuntungkan karena tenaga yang dikeluarkan jauh lebih sedikit.
“Tarif tetap normal. Bedanya, kami tidak terlalu capek lagi,” tambahnya.
Dia berharap dengan adanya becak listrik ini, pendapatannya meningkat tanpa harus bersusah payah mengeluarkan tenaga. Masyarakat-pun kembali menggunakan becak sebagai salah satu alternatif transportasi ramah lingkungan.
Sementara itu, Wakil Bupati Sidoarjo H. Mimik Idayana menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut. Keberlanjutan operasional becak listrik telah dipikirkan secara matang oleh Yayasan GSN dengan melibatkan PLN.
“Fasilitas pengisian daya akan disiapkan di sejumlah titik strategis, mulai dari pusat kota, Alun-Alun Sidoarjo, hingga kantor kecamatan. Yang terpenting, pengisian daya ini tidak membebani para penarik becak,” jelas Mimik.
Program di Sidoarjo merupakan bagian dari target nasional penyaluran 10.000 unit becak listrik tahap awal yang dicanangkan pada 2025. Ke depan, Presiden Prabowo juga telah menginstruksikan PT Pindad untuk memproduksi tambahan 70.000 unit becak listrik yang ditargetkan rampung pada 2027.
“Jika target ini tercapai, seluruh penarik becak di Indonesia diharapkan dapat merasakan manfaat program ini,” tandas Teguh.
Untuk menjaga agar bantuan tepat sasaran, Yayasan GSN bersama pihak terkait akan melakukan pengawasan berkala. Absensi dan pengecekan kondisi becak listrik dijadwalkan setiap tiga bulan guna memastikan bantuan tidak dialihkan dan benar-benar digunakan oleh penerima yang berhak. (Azies)
