Sekitar 120 Hektare Sawah di Cianjur Diserbu Burung Pipit, Petani Terancam Gagal Panen

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Petani Cianjur terancam gagal panen. (Hasan/kabarterdepan.com)
Petani Cianjur terancam gagal panen. (Hasan/kabarterdepan.com)

Cianjur, Kabarterdepan.com — Sekitar 120 hektare lahan persawahan di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dilanda serangan ribuan burung pipit selama dua pekan terakhir.

Serangan masif tersebut menghantam tanaman padi yang tengah memasuki fase krusial menjelang panen, membuat petani terancam mengalami gagal panen.

Dampaknya tak main-main. Bulir padi yang mulai menguning habis dilahap kawanan burung, menyisakan kerugian besar bagi petani. Bahkan, dari lahan seluas satu hektare, ada petani yang hanya mampu memanen sekitar satu kwintal gabah.

Teten Sopiandi (53), petani asal Kampung Pasirangin, Desa Nanggalamekar, mengungkapkan bahwa penderitaan petani datang beruntun. Sebelumnya, tanaman padi sempat terserang penyakit yang menyebabkan pertumbuhan kerdil sejak usia 45 hari.

“Awalnya kami hampir gagal tanam karena padi kerdil. Setelah diberi obat dan mulai pulih, justru datang musibah lain. Menjelang panen, bulir padi habis dimakan burung pipit. Jumlahnya ribuan,” ujar Teten, Senin (19/1/2026).

IMG 20260120 WA0168
Burung menyerang persawahan

Menurutnya, serangan burung pipit terjadi secara teratur, terutama pada sore hari ketika cuaca mulai teduh. Sementara pada pagi hingga siang hari, kawanan burung tersebut nyaris tak terlihat.

“Kalau pagi sampai siang tidak ada. Tapi begitu sore, burung-burung itu langsung memenuhi sawah. Padi yang sudah keluar bulirnya dimakan semua, seperti tidak ada habisnya. Hampir seluruh sawah dihinggapi,” katanya.

Sebagian Besar Gagal Panen

Akibat serangan tersebut, produktivitas panen anjlok drastis. Dari hasil normal 7–8 ton gabah per hektare, kini petani hanya mampu memanen sekitar 100 kilogram.

“Sebagian besar gagal panen. Kalaupun ada yang tersisa, paling banyak tidak sampai seperempat dari hasil biasanya,” ungkap Teten.

Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk menekan kerugian, mulai dari memasang jaring hingga alat pengusir burung tradisional. Namun, langkah tersebut dinilai belum efektif dan justru menambah beban biaya produksi.

Kondisi ini membuat petani berharap adanya perhatian dan solusi konkret dari pemerintah daerah untuk mencegah kerugian yang semakin meluas. (Hasan)

Responsive Images

You cannot copy content of this page