Paparan Mikroplastik Ditemukan di 3 Lokasi Jombang, Fiber Paling Banyak

Avatar of Redaksi
Paparan Mikroplastik
Paparan hasil temuan untuk edukasi lingkungan digelar di MA MTs Al Hikam Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)

Jombang, kabarterdepan.com — Paparan mikroplastik kembali ditemukan di sejumlah wilayah Kabupaten Jombang. Berdasarkan hasil pendataan di tiga titik berbeda, jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber, yang umumnya berasal dari serat tekstil sintetis, limbah cucian, serta aktivitas domestik masyarakat.

Tiga lokasi pengambilan sampel meliputi depan Polres Jombang, Depan Lapas Jombang, dan Jatirejo, Cukir. Dari ketiga titik tersebut, jumlah temuan mikroplastik bervariasi, dengan lokasi Jatirejo, Cukir, mencatatkan jumlah tertinggi.

Di depan Polres Jombang, ditemukan sebanyak 13 partikel mikroplastik, seluruhnya merupakan jenis fiber. Tidak ditemukan mikroplastik jenis film maupun fragmen di lokasi ini.

Sementara itu, di Depan Lapas Jombang, jumlah mikroplastik yang teridentifikasi mencapai 14 partikel, terdiri atas 10 fiber, 1 film, dan 3 fragmen. Keberadaan jenis film dan fragmen mengindikasikan sumber pencemar yang lebih beragam, termasuk dari plastik kemasan sekali pakai.

Adapun temuan tertinggi berada di Jatirejo, Cukir, dengan total 16 partikel mikroplastik, yang terdiri dari 13 fiber, 2 film, dan 1 fragmen. Dominasi fiber di lokasi ini menunjukkan kuatnya pengaruh limbah domestik terhadap pencemaran mikroplastik di lingkungan sekitar.

Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Rafika Aprilianti, mengatakan dominasi fiber hampir selalu muncul dalam setiap riset mikroplastik di wilayah perkotaan dan permukiman padat.

“Fiber paling banyak berasal dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian. Serat-serat sintetis lepas, masuk ke saluran air, lalu bermuara ke sungai dan lingkungan sekitar,” ujar Rafika saat memaparkan hasil temuan, Selasa (20/1/2026).

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa temuan tersebut bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahaya bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan manusia.

“Mikroplastik tidak hanya berhenti di air. Ia masuk ke rantai makanan, dimakan ikan, lalu kembali ke tubuh manusia. Ini ancaman jangka panjang yang sering dianggap sepele,” kata Prigi.

Senada, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menilai lemahnya pengelolaan limbah domestik menjadi faktor utama masih tingginya temuan mikroplastik di Jombang.

“Selama sistem pengolahan air limbah rumah tangga belum dibenahi secara serius, mikroplastik akan terus mengalir bebas ke lingkungan,” ujarnya.

WhatsApp Image 2026 01 20 at 9.41.45 AM

Paparan Mikroplastik

Paparan mikroplastik tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi lingkungan yang digelar di MA MTs Al Hikam Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang yang diikuti oleh pelajar, guru, serta pegiat lingkungan.

Kepala MA Al Hikam Jatirejo, Matuhah Mustiqowati, menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai edukasi terkait mikroplastik penting ditanamkan sejak dini.

“Kami ingin siswa tidak hanya paham secara teori, tetapi juga sadar bahwa perilaku sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap lingkungan,” ujarnya.

Temuan ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperketat pengelolaan limbah, meningkatkan sistem pengolahan air limbah domestik, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. (Karimatul Maslahah)

Responsive Images

You cannot copy content of this page