Panduan Lengkap Mengapa Privasi Digital Penting dan Cara Amankan Data Saat Naik Transportasi Publik

privasi digital penting
Infografis alasan kenapa menjaga privasi digital penting untuk keamanan data. (AI)

Teknologi, kabarterdepan.com – Kasus viral chat WA orang tak dikenal yang menimpa seorang penumpang kereta api baru-baru ini telah memicu diskursus panas mengenai sejauh mana privasi data penumpang kereta terlindungi di ruang publik.

Kejadian ini bermula saat seorang pengguna media sosial membagikan tangkapan layar berisi pesan godaan dari pria asing yang berada di gerbong yang sama, padahal keduanya tidak pernah terlibat interaksi verbal, apalagi bertukar kontak.

Fenomena ini bukan sekadar masalah etika sosial, melainkan sebuah anomali digital yang mengancam rasa aman setiap komuter yang mengandalkan transportasi massal.

Beberapa Alasan Privasi Digital Penting Untuk Keamanan

Menelusuri Jejak Digital

Kasus ini adalah puncak gunung es dari lemahnya kesadaran akan keamanan data pribadi. Masyarakat sering bertanya, apakah data KAI bocor atau apakah sistem pemesanan tiket memiliki celah? Hingga saat ini, pihak otoritas transportasi memastikan bahwa sistem internal mereka aman. Namun, pelaku memiliki cara-cara yang jauh lebih sederhana namun mematikan untuk mendapatkan informasi tersebut.

Salah satu teknik yang paling sering digunakan adalah shoulder surfing atau mengintip layar ponsel korban. Di dalam gerbong kereta yang padat, sangat mudah bagi seseorang untuk mengintip saat Anda sedang mengetik di aplikasi perbankan, media sosial, atau bahkan saat Anda sedang menunjukkan e-boarding pass kepada petugas.

Dalam hitungan detik, nomor ponsel yang tertera di layar dapat terekam oleh mata atau kamera pelaku. Inilah alasan mendasar kenapa privasi digital penting untuk dijaga bahkan di tempat yang kita anggap formal dan aman.

Celah Teknologi dan Keamanan Siber di Transportasi Publik

Selain faktor kelalaian manusia, kita harus meninjau aspek keamanan siber di transportasi publik. Penggunaan WiFi publik gratis di stasiun atau gerbong sering kali menjadi pintu masuk bagi para peretas tingkat rendah.

Dengan teknik man-in-the-middle attack, pelaku dapat menyadap lalu lintas data yang tidak terenkripsi, termasuk nomor telepon atau identitas akun media sosial yang sedang aktif.

Lebih jauh lagi, fitur “Nearby Share” atau “AirDrop” yang dibiarkan dalam kondisi “Open for Everyone” sering kali memberikan celah bagi orang asing untuk melihat nama perangkat Anda, yang terkadang mencantumkan nama asli atau bahkan nomor kontak di bagian profil. Tanpa perlindungan yang memadai, identitas digital kita ibarat buku terbuka di tengah keramaian.

Cara Mengamankan Nomor WhatsApp dari Orang Asing

Menghadapi ancaman ini, pengguna harus proaktif dalam membentengi diri. Berikut adalah beberapa langkah krusial sebagai cara mengamankan nomor WhatsApp dari orang asing:

  1. Pengaturan Privasi Ketat: Masuk ke setelan WhatsApp dan ubah opsi Profile Photo, Last Seen, About, dan Status menjadi “My Contacts” saja. Hal ini mencegah orang asing melihat identitas visual Anda hanya dengan menyimpan nomor Anda secara acak.

  2. Gunakan Screen Protector Privacy: Investasi kecil pada pelapis layar gelap (anti-intip) dapat mencegah pelaku melakukan shoulder surfing di tempat umum.

  3. Matikan Konektivitas Tak Terpakai: Selalu matikan Bluetooth, NFC, dan fitur berbagi jarak dekat saat berada di transportasi umum kecuali benar-benar diperlukan.

  4. Waspada Manifest Fisik: Pastikan Anda tidak meninggalkan sampah berupa struk tiket atau label pengiriman paket yang mencantumkan nama dan nomor telepon di area stasiun.

Peran Operator dan Tanggung Jawab Kolektif

Penyedia jasa transportasi memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi penumpang mengenai privasi data penumpang kereta. Langkah preventif seperti penambahan stiker peringatan “Jaga Privasi Layar Anda” atau pengawasan melalui CCTV terhadap gerak-gerik mencurigakan (pelaku yang sengaja mengintip ponsel orang lain) harus ditingkatkan.

Namun, tanggung jawab terbesar tetap ada pada pengguna. Di era di mana data adalah komoditas berharga, bersikap “pelit” terhadap informasi pribadi bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bentuk pertahanan diri.

Kasus viral chat WA orang tak dikenal ini harus menjadi pengingat keras bahwa ancaman keamanan tidak selalu datang dari serangan siber berskala besar, tetapi bisa saja berasal dari orang yang duduk tepat di sebelah Anda.

Privasi adalah hak asasi di ruang digital yang kian menyempit. Dengan memahami kenapa privasi digital penting, kita tidak hanya melindungi diri dari gangguan pesan singkat yang tidak diinginkan, tetapi juga dari potensi kejahatan yang lebih serius seperti penipuan (scamming) atau penguntitan (stalking).

Mari kita lebih bijak dalam memamerkan layar gadget di ruang publik agar perjalanan kita tetap nyaman hingga tujuan tanpa gangguan dari bayang-bayang digital yang mengintai.

Responsive Images

You cannot copy content of this page