Darurat Tanah Ambles di Blora, Aliran Sungai Lusi Jadi Fokus Penanganan

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Peristiwa tanah ambles di desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Blora. (Foto: Rengga/kabarterdepan.com)
Peristiwa tanah ambles di desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Blora. (Foto: Rengga/kabarterdepan.com)

Blora, kabarterdepan.com – Tanah ambles yang merusak permukiman warga di Kabupaten Blora tidak hanya terjadi di satu titik. Dalam beberapa hari terakhir, DPUPR Blora mencatat sedikitnya tiga lokasi terdampak, dengan fokus penanganan diarahkan untuk menghentikan pergerakan tanah lebih lanjut.

Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kabupaten Blora, Surat, menjelaskan kondisi dan rencana penanganan peristiwa tanah ambles yang terjadi di sejumlah wilayah di Blora.

Ia menyebut, dari hasil pemantauan awal, terdapat beberapa titik yang dinilai perlu segera dilakukan perbaikan karena berpotensi membahayakan lingkungan sekitar.

“Memang ada beberapa spot atau titik yang menurut kami perlu diperbaiki. Yang pertama nanti untuk menghentikan bidang gelincir tanah longsornya di sepanjang aliran Sungai Lusi, kurang lebih jaraknya 30 meter,” ujarnya, senin (5/1/2026).

Namun, DPUPR Blora saat ini memprioritaskan penanganan pada bagian bawah area terdampak. Langkah ini dinilai penting untuk menghentikan pergerakan tanah sebelum dilakukan upaya lanjutan di bagian atas.

“Tapi yang menjadi prioritas untuk kita tangani dulu adalah bagian bawah. Setelah secara bertahap bagian bawah sudah tidak bergerak lagi, nanti kita coba mitigasi bersama-sama untuk mengendalikan air dari atas supaya nanti bisa langsung ke sungai dan tidak merembes ke dalam tanah secara langsung,” terangnya.

Tiga Lokasi Tanah Ambles

Surat juga mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya menerima laporan adanya tiga lokasi yang mengalami kondisi serupa. Lokasi tersebut tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Blora.

“Sementara yang memang beberapa hari ini masuk ke kami ada tiga lokasi. Yang pertama di Desa Buluroto, Dukuh Ngetrep Desa Tutup Kecamatan Tunjungan, dan di Puledagel Kecamatan Jepon,” jelasnya.

Terkait metode penanganan, DPUPR Blora masih menunggu hasil pengecekan langsung di lapangan. Kajian teknis diperlukan untuk menentukan jenis longsoran serta sistem perkuatan yang paling tepat diterapkan di masing-masing lokasi.

“Untuk penangan, nanti kita lihat situasi dan kondisi lapangan seperti apa. Kalau sudah cek lokasi, kami baru bisa mengkaji teknik longsorannya seperti apa dan perkuatannya yang perlu kita terapkan di situ,” ungkap Surat.

Ia menambahkan, mengingat kondisi yang bersifat mendesak, pemerintah daerah saat ini baru dapat melakukan upaya penanganan darurat guna mencegah dampak yang lebih luas.

“Yang jelas karena sifatnya ini mendesak, kami dari pemerintah baru bisa mengupayakan sifatnya penanganan-penanganan darurat dulu,” tegasnya.

Akibat peristiwa tanah ambles tersebut, sejumlah rumah warga desa Buluroto, Banjarejo, turut terdampak. Penurunan tanah terjadi cukup signifikan di area permukiman.

“Sekitar ada 6 rumah yang terdampak. Memang hampir sekitar 50 meter yang memang kondisi tanahnya memang mengalami penurunan karena amblas,” pungkasnya. (Rengga)

Responsive Images

You cannot copy content of this page