Viral! Perjuangan Hidup Ninik Badut Doraemon Asal Mojokerto

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Ninik Badut Doraemon saat menghibur anak-anak. (Redaksi/kabarterdepan.com) 
Ninik Badut Doraemon saat menghibur anak-anak. (Redaksi/kabarterdepan.com) 

Mojokerto, Kabarterdepan.com –
Di balik kostum badut Doraemon yang mengundang tawa anak-anak, Ninik Istyawati (30) menyimpan kisah perjuangan hidup yang mengharukan.

Perempuan asal Mojokerto ini mendadak viral usai videonya meminta izin kepada sang ibu untuk menjadi badut beredar luas di media sosial.

Aksi Ninik itu viral di media sosial, video berdurasi 1 menit 25 detik itu direkam di rumah kontrakan ibunya, Rugiati (52), warga Desa Pugeran, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Dengan iringan lagu Selamat Ulang Tahun dari ponsel, Ninik berpura-pura mengamen sambil membawa nasi bebek dan pepes tahu, makanan favorit ibunya.

Tanpa disadari sang ibu, keponakan Ninik merekam momen tersebut. Saat lagu berakhir, Ninik mendekat, menyerahkan makanan, lalu membuka kepala badut Doraemon tepat di hadapan Rugiati. Kejutan itu berubah menjadi pelukan dan air mata.

“Ibu tidak tahu kalau di dalam badut itu saya. Tahunya setelah aku kasih nasi, topeng saya buka, spontan ibu kaget, kemudian saya menangis,” kata Ninik kepada wartawan di rumahnya, Jumat (2/1/2025) sore.

Ninik merupakan janda dengan tiga anak. Pendidikan terakhirnya Madrasah Aliyah. Anak sulungnya kini mondok di kelas 3 MI, anak kedua bersekolah di TK A, sementara si bungsu masih berusia 22 bulan. Sejak bercerai pada 2024, ia harus menghidupi keluarganya seorang diri.

Sehari-hari, Ninik tinggal bersama ayahnya di Dusun Ponggok, Desa Wonoploso, Gondang. Ia tumbuh dalam keluarga yang juga terpisah sejak kecil. Sang ibu kini tinggal di rumah kontrakan bersama suami barunya.

Video Viral Ninik Badut Doraemon Minta Restu Ibu

Video viral tersebut bukan dibuat untuk mencari perhatian. Saat itu, Ninik memang berniat pamit sekaligus meminta restu kepada ibunya demi mencari tambahan penghasilan sebagai badut, sekaligus memberi kado sederhana di Hari Ibu.

“Alhamdulillah ibu merestui karena dari segi ekonomi sedang terhimpit, mencari tambahan dengan menjadi badut,” terangnya.

Beragam pekerjaan pernah ia jalani, mulai dari usaha kuliner, jasa pijat capek khusus perempuan, bersih-bersih rumah, hingga ojek konvensional. Namun penghasilannya masih pas-pasan. Ia harus membayar cicilan Rp 1.250.000 per bulan hingga September 2026 serta biaya pondok pesantren anak sulungnya Rp 600.000 per bulan.

“Saat pengeluaran bersamaan, bayar pinjaman dan biaya anak di pondok, bikin bingung. Ke orang tua saya tak pernah mengeluh. Karena khawatir menjadi beban pikiran mereka,” jelasnya.

Dengan modal pinjaman Rp 500.000 dari sahabatnya, Ninik membeli kostum badut Doraemon dan mulai menerima job foto anak-anak serta acara ulang tahun. Ia tidak mengamen dan tak mematok tarif untuk foto bersama anak-anak.

“Untuk foto dengan anak-anak saya tidak mematok tarif, seikhlasnya saja. Kalau job event saya tarif Rp 100.000 untuk 3 jam, mulai Januari nanti Rp 150.000 untuk 4 jam,” ungkapnya.

Penghasilannya sebagai badut tidak menentu, mulai Rp 27.000 hingga Rp 255.500 per hari. Meski begitu, Ninik tetap menyimpan harapan besar demi masa depan anak-anaknya.

“Pikiran saya satu, hidup supaya manfaat, rezeki ada jalannya karena Allah SWT tidak tidur. Saya ingin anak-anak saya bisa sukses, tidak hidup susah,” tandasnya. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page