
Sampang, kabarterdepan.com – Selain menu MBG yang menuai kritik, isu lain turut mencuat dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polagan 1 dan 3 Kabupaten Sampang.
Publik mulai menyoroti dugaan ketidaksesuaian jumlah relawan yang bekerja dengan laporan yang tercatat.
Dalam petunjuk teknis MBG, SPPG dibekali alokasi tenaga kerja, mulai dari juru masak hingga petugas pencuci ompreng. Pada juknis tersebut juga ditegaskan bahwa setiap relawan mendapatkan honor minimal Rp100 ribu per hari.
Dengan asumsi jumlah tenaga kerja mencapai 47 orang, maka anggaran yang harus dikeluarkan SPPG diperkirakan sekitar Rp4,7 juta per hari hanya untuk upah relawan.
Dugaan Manipulasi Data Relawan
Namun, dari informasi yang beredar di masyarakat, muncul dugaan bahwa jumlah tenaga kerja yang benar-benar bekerja di lapangan jauh lebih sedikit dari yang tercantum.
“Yang ditakutkan, jangan sampai yang kerja cuma sekitar 10 orang, tapi di laporan ditulis 47 orang semuanya bekerja,” ujar salah satu warga kepada kabarterdepan.com.
Kekhawatiran ini dinilai serius karena berpotensi mengarah pada ketidaktepatan penggunaan anggaran, bahkan dikhawatirkan dapat merugikan keuangan negara jika tidak sesuai fakta di lapangan.
“Kalau benar begitu, ini bukan sekadar soal teknis, tapi sudah menyangkut uang negara,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, kabarterdepan.com masih berupaya mengonfirmasi pihak pengelola SPPG Polagan 1 dan 3 terkait jumlah relawan aktif, sistem absensi, serta mekanisme pelaporan honor. (Fais)
