Penggunaan Kemasan Styrofoam pada SPPG Tanggumong Sampang Jadi Sorotan, Orang Tua Khawatir Dampak Kesehatan

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Kemasan styrofoam pada SPPG Tanggumong (fais/kabarterdepan.com)
Kemasan styrofoam pada SPPG Tanggumong (fais/kabarterdepan.com)

Sampang, kabarterdepan.com – Pergantian kemasan styrofoam makanan pada Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah sekolah dasar di Sampang mulai menuai kritik.

Dalam pantauan kabarterdepan.com, SDN Gunung Sekar 5 yang biasanya menggunakan ompreng kini beralih ke kemasan styrofoam sebagai wadah makanan untuk peserta didik pada Senin (8/12/2025).

Menurut informasi yang dihimpun tim kabarterdepan.com, SPPG Tanggumong melakukan perubahan kemasan tersebut dilakukan dengan alasan teknis.

Pihak sekolah menyampaikan bahwa selama masa ujian, siswa pulang lebih cepat sehingga penggunaan styrofoam dinilai lebih praktis dan efisien.

Dimana diketahui, sebelumnya setiap dapur SPPG memperoleh insentif Rp2.000 per penerima manfaat sebagai dukungan operasional terkait penggunaan ompreng dan perlengkapan lainnya.

Namun, kebijakan baru yang disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, pada Rabu (5/11/2025) mengubah skema tersebut.

Insentif dasar kini diganti menjadi Rp6 juta per hari operasional untuk setiap SPPG, tanpa melihat jumlah penerima manfaat.

Aturan ini diberlakukan menyusul penurunan target penerima manfaat dari 3.500 menjadi hanya 2.500 penerima manfaat per SPPG. Kebijakan tersebut berlaku untuk dua tahun ke depan sebelum dilakukan evaluasi ulang.

Masalah Kesehatan Kemasan Styrofoam

Meski demikian, penggunaan sterofoam justru memunculkan kekhawatiran baru di masyarakat. Sejumlah orang tua menilai, kemasan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan anak.

“Kami senang anak-anak dapat makanan bergizi dari SPPG, itu sangat membantu. Tapi kalau kemasannya berisiko, ya percuma juga. Harapannya pemerintah bisa mempertimbangkan ulang demi kesehatan anak-anak,” tutur salah satu orang tua saat dikonfirmasi kabarterdepan.com melalui panggilan whatsapp, Senin (8/12/2025) malam.

Dimana diketahui bahwa styrofoam mengandung zat kimia berbahaya seperti stirena dan benzena yang dapat bermigrasi ke makanan terutama makanan panas dan berlemak.

Paparan kedua zat ini diketahui berisiko memicu kanker, mengganggu sistem saraf, dan menyebabkan iritasi pada kulit, mata, serta saluran pernapasan.

Selain aspek kesehatan, dampak lingkungan juga menjadi sorotan. Styrofoam merupakan bahan yang sulit terurai dan membutuhkan waktu antara 500 hingga 1.000 tahun untuk benar-benar hancur.

Limbah styrofoam yang terpecah menjadi mikroplastik dapat mencemari tanah dan air, mengganggu ekosistem, bahkan meningkatkan risiko banjir.

Hingga berita ini diturunkan, tim kabarterdepan.com masih mencoba mengkonfirmasi kepada Mitra SPPG maupun Kepala SPPG. (Fais)

Responsive Images

You cannot copy content of this page