
Bekasi, Kabarterdepan.com – Kalimalang Bekasi, sebuah kali buatan yang membentang melintasi batas-batas administratif ini bukan sekadar saluran irigasi; ia adalah urat nadi kehidupan, saksi bisu perkembangan peradaban, dan kini, kanvas baru bagi ambisi sebuah kota metropolitan.
Untuk memahami potensi hari ini, kita harus mundur ke hulu sejarahnya. Penamaan “Kalimalang” sendiri sarat makna. Ia berasal dari kata dalam Bahasa Jawa, malang yang berarti melintang.
Penamaan ini merujuk pada arah alirannya yang tidak biasa—melintang dari timur ke barat, berlawanan dengan lazimnya sungai yang mengalir dari pegunungan ke laut. Ia ‘memalang’ atau melintasi beberapa kali alami, termasuk Kali Cirata, Kali Bekasi, hingga Kali Cakung, seperti yang tertera dalam catatan historis.
Proyek Ambisius Kalimalang Bekasi
Proyek ambisius ini lahir dari visi besar Presiden Soekarno pada tahun 1957. Awalnya dikenal sebagai Saluran Induk Irigasi Tarum Barat, pembangunan Kalimalang merupakan bagian integral dari proyek raksasa Waduk Jatiluhur di Purwakarta.
Tujuannya sangat krusial: menyediakan pasokan air baku bagi ibu kota Jakarta yang semakin haus akan air bersih, sekaligus menopang sektor pertanian di wilayah Karawang dan Bekasi.
Proses pembangunannya, yang memakan waktu belasan tahun hingga berfungsi penuh di awal tahun 1970-an, melibatkan semangat gotong royong warga Bekasi yang bahkan rela menghibahkan lahannya secara cuma-cuma.
Keterkaitan historisnya dengan nama kuno Bekasi, yakni Chandrabhaga atau Bhagasasi—saluran irigasi yang dibangun oleh Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara—menjadikan Kalimalang tak hanya penting secara fungsional, tetapi juga simbolis. Ia adalah warisan infrastruktur air yang menghubungkan masa lampau dan masa kini.
Kalimalang bukan hanya tentang air yang mengalir, tapi tentang semangat gotong royong yang menjadi pondasi pembangunannya di era 1960-an. Semangat inilah yang kini perlu dihidupkan kembali dalam menata masa depannya.”
Saluran Air Hingga ke Destinasi Wisata Unggulan
Hari ini, narasi tentang Kalimalang Bekasi bergeser dari sekadar saluran irigasi menjadi sebuah potensi wisata air yang transformatif. Pemerintah Kota Bekasi, didukung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tengah gencar melakukan revitalisasi.
Inspirasi penataan ini kerap disandingkan dengan kesuksesan Sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan, yang berhasil bertransformasi dari kawasan kumuh menjadi ruang publik bernilai tinggi.
Potensi Kalimalang Bekasi mencakup beberapa aspek kunci:
-
Wisata Air dan Ruang Publik: Proyek revitalisasi memfokuskan pada penciptaan Zona Selebrasi, Zona Edukasi, Zona Ekologi (Eco-Park), dan Zona Komersil. Ini mencakup pembangunan taman tematik seperti Taman Tarum Bhagasasi dan Taman Chandrabaga, yang akan dilengkapi dengan jogging track, spot foto instagramable, dan kawasan kuliner yang memberdayakan UMKM lokal. Visi ini diharapkan dapat mengisi kekosongan Bekasi yang selama ini lebih dikenal dengan mal daripada destinasi wisata alam.
-
Pengembangan Ekonomi Kreatif: Penataan kawasan bantaran sungai membuka peluang besar bagi ekonomi lokal, menciptakan sentra kuliner dan rekreasi yang dapat dinikmati masyarakat tanpa perlu melancong jauh ke Jakarta. Kolaborasi pendanaan yang melibatkan APBD, Pemprov Jabar, dan Corporate Social Responsibility (CSR) menunjukkan keseriusan dalam menggarap aset strategis ini.
-
Fungsi Koridor Kota: Kalimalang berperan sebagai koridor hijau dan biru (ruang terbuka hijau dan air) yang esensial di tengah padatnya permukiman. Revitalisasi ini bertujuan menjadikan Kalimalang sebagai landmark kota yang memperkuat identitas Bekasi sebagai kota yang modern dan layak huni.
Namun, seperti koin bermata dua, Kalimalang juga menyimpan tantangan kronis yang harus diatasi.
Salah satu yang paling disorot adalah kondisi lalu lintas di ruas jalan yang mengiringinya, yang dikenal sebagai Jalan Kalimalang Bekasi. Jalan ini merupakan salah satu jalur vital, terutama sebagai jalur mudik utama kendaraan roda dua menuju Cikampek, sehingga sering mengalami kemacetan parah.
Pembangunan infrastruktur seperti Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) yang melayang di atas Kalimalang, meskipun bertujuan mengurai kemacetan, pada fase konstruksinya justru menimbulkan isu baru, termasuk alih fungsi lahan dan masalah sistem drainase yang buruk.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah isu genangan dan Kalimalang Bekasi Banjir musiman di beberapa titik, khususnya di kawasan perbatasan Jakarta-Bekasi.
Meskipun fungsi utamanya adalah saluran air baku yang relatif bersih, penataan drainase yang buruk, serta adanya bangunan liar dan tumpukan sampah, dapat memperburuk kondisi genangan saat curah hujan tinggi.
Revitalisasi Kalimalang Bekasi adalah langkah maju yang ambisius, mengubah stigma dari jalur macet dan rawan banjir menjadi destinasi yang menjanjikan. Dengan dukungan infrastruktur seperti Tol Becakayu dan informasi akurat mengenai lokasi, aksesibilitas kawasan ini akan meningkat.
Pada akhirnya, kisah Kalimalang Bekasi adalah kisah tentang transformasi. Dari kali buatan yang lahir dari kebutuhan air baku di masa lalu, kini ia menapaki takdir baru sebagai simbol kemajuan, ikon pariwisata, dan ruang publik yang memperkaya kualitas hidup warga.
Tantangan macet dan banjir adalah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, namun visi menjadikan Kalimalang sebagai Cheonggyecheon-nya Indonesia bukanlah sekadar mimpi, melainkan peluang emas yang siap direalisasikan. (*)
