
Sidoarjo, Kabarterdepan.com, – Warga Dusun Gisik, Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo mulai gerah dengan lambannya penanganan jembatan Cemandi penghubung utama kawasan tambak yang ambruk sejak 7 Oktober 2025.
Sudah hampir 3 bulan berlalu, namun jembatan vital yang menjadi akses utama warga dan wisatawan itu tak kunjung disentuh perbaikan, sehingga membuat aktivitas harian masyarakat tersendat, Selasa (2/12/2025).
Pantauan di lapangan memperlihatkan kondisi jembatan Cemandi yang runtuh di bagian tengah. Kerusakan itu praktis memutus akses warga, memaksa mereka mengambil jalur memutar cukup jauh hanya untuk menuju area tambak atau kembali ke permukiman.
Selamet (51), menuturkan bahwa kerusakan tersebut sangat menghambat mobilitas warga.
“Untuk bisa lewat, kami harus putar balik dulu lewat jembatan besar di Kalanganyar, lalu belok kiri ke jembatan kayu. Jauh sekali mutarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa jembatan tersebut merupakan jembatan tertua di kawasan tambak Cemandi dan telah berusia sekitar 35 tahun.
Menurut Slamet, usia jembatan yang sudah menua semestinya menjadi perhatian serius pemerintah.
“Jembatan ini sudah tua, umurnya 35 tahun. Harusnya sudah dipikirkan peremajaannya,” tambahnya.
Pasca Jembatan Cemandi Disidak
Yang membuat warga semakin bingung, katanya, ialah fakta bahwa Wakil Bupati Sidoarjo bersama dinas terkait sudah melakukan sidak beberapa waktu lalu.
Meski demikian, tidak ada tanda-tanda dimulainya pembangunan ulang jembatan tersebut.
“Sudah ambruk sejak 7 Oktober, tapi belum ada proses pembangunan. Kita kalau mau lewat ya harus berputar jauh,” keluhnya.
Selain jembatan ambruk, warga juga dihadapkan pada persoalan banjir yang rutin melanda kawasan tambak.
Ia juga bahkan berencana meninggikan teras rumahnya sambil menunggu realisasi peninggian jalan yang dijanjikan pemerintah.
“Kalau banjir di sini sampai masuk rumah. Saya mau tinggikan teras, menunggu jalan yang katanya mau dinaikkan,” pungkasnya. (zal)
