
Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur hampir dua pekan terakhir, ditambah air laut pasang, menghancurkan ratusan lahan tambak di Desa Segoro Tambak, Kecamatan Sedati, Sidoarjo.
Hujan Ekstrem, Pematang Jebol
Debit air yang melonjak dan arus banjir yang kuat membuat pematang tak mampu menahan tekanan, sehingga banyak tanggul jebol dan tambak rusak total.
“Hujan lebat disertai banjir rob memicu volume air tambak meluap. Pematang tidak kuat menahan tekanan dan akhirnya jebol. Kondisi ini membuat petambak di desa kami mengalami kerugian besar,” ujar Suryanto, seorang warga dan Ketua Pokdakan Mina Sentosa Segoro Tambak, Sabtu (29/11/2025).
Ia menegaskan musibah ini tidak hanya menimpa warga Segoro Tambak, tetapi juga melanda petani tambak di pesisir Sidoarjo lainnya, seperti Desa Banjar Kemuning dan Kalang Anyar di Sedati, serta Gebang, Kupang, Kedung Pandan di Jabon, hingga Kedung Peluk Kecamatan Candi.
“Kurang lebih ada tujuh desa di empat kecamatan yang terdampak. Semua petani tambak merasakan dampaknya,” ungkapnya.
Ribuan ekor ikan bandeng, nila, dan udang vaname yang seharusnya segera dipanen hilang tersapu banjir. Para petani mengaku terpukul karena memasuki akhir November seharusnya menjadi masa panen raya.
“Benih ditebar sejak bulan September. Harusnya akhir bulan ini panen. Tapi banjir datang dan dalam sekejap semua hilang. Kerugian satu tambak bisa mencapai ratusan juta,” keluhnya.
Lebih dari 135 Tambak Rusak di Segoro Tambak

Ia menjelaskan banyak petani memiliki dua hingga empat tambak. Dengan jumlah anggota Pokdakan mencapai 45 orang, diperkirakan sedikitnya 135 tambak di Desa Segoro Tambak jebol dihantam rob dan hujan ekstrem.
“Kami petani tambak pesisir benar-benar menjerit. Jika satu tambak saja rugi seratus juta, bayangkan total kerugian di tujuh desa,” tegasnya.
Menurutnya, kerusakan tanggul tambak sebenarnya bukan kejadian baru. Selama enam tahun terakhir, jebolnya tanggul kerap terjadi.
Kendati demikian, meski petani terus berupaya meninggikan pematang, usaha tersebut tak mampu menahan derasnya banjir.
“Sudah enam tahun kami memperbaiki dan meninggikan tanggul, tapi tetap jebol. Saat banjir datang, tambak berubah seperti lautan,” tuturnya.
Para petani tambak berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki tanggul dan memberikan solusi jangka panjang.
Selain itu, mereka juga meminta bantuan alih pekerjaan karena banyak yang kehilangan mata pencaharian.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Bappeda dan Dinas Perikanan, tapi belum ada tindak lanjut. Untuk bertahan hidup, kami terpaksa beralih menjadi penggarap rumput laut, rencananya baru mulai Januari atau Februari,” tambahnya.
Suryanto berharap Bupati Sidoarjo dapat turun langsung melihat kondisi kami. Tahun lalu bantuan dari pemerintah hanya berupa sembako dan dirasa belum cukup untuk mengatasi persoalan besar yang mereka hadapi.
“Harapannya Pak Bupati datang melihat langsung kondisi kami, agar apa yang kami butuhkan bisa tersampaikan,” pungkasnya. (zal)
