
Blora, Kabarterdepan.com – Dorongan penguatan sektor agroindustri kembali mengemuka di Kabupaten Blora. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Blora, Dasiran, menilai bahwa kesiapan infrastruktur dan arah pembangunan jangka panjang harus berjalan beriringan untuk membuka peluang investasi dan memaksimalkan potensi daerah.
Dalam sebuah diskusi terbatas yang diinisiasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), ia menyampaikan bahwa pembangunan agroindustri tak akan optimal tanpa dukungan aksesibilitas yang memadai.
Diskusi JMSI Ungkap Tantangan Infrastruktur
Ia bahkan mencontohkan pengalamannya menghadiri undangan di Dukuh Gempol, Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, yang memakan waktu hampir dua jam perjalanan.
“Infrastruktur menjadi faktor kunci jika kita ingin menggerakkan potensi agroindustri,” tegasnya.
Dasiran juga menyoroti tantangan fiskal akibat pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat. Mulai akhir 2025, Pemkab Blora harus menerapkan langkah efisiensi setelah diketahui bahwa TKD tahun 2026 akan dipangkas sekitar Rp229 miliar.
“Pengurangan TKD ini tentu sangat berpengaruh pada perencanaan dan kemampuan pembiayaan daerah. Karena itu, pemanfaatan potensi lokal harus dilakukan semaksimal mungkin,” katanya.
Di sisi lain, ia memastikan bahwa arah pembangunan daerah sebenarnya sudah tertuang jelas dalam RPJPD Blora 2025–2045.
Visi besar yang ingin dicapai adalah menjadikan Blora sebagai Kabupaten Penumpu Industri dan Wana Tani Nasional pada tahun 2045, sebuah target yang disebut selaras dengan kebijakan pembangunan provinsi maupun pusat.
“Potensi Blora sangat besar dan dinilai mampu menjadi daerah penopang industri serta ketahanan pangan nasional. Ini harus dikelola dengan baik dan melibatkan seluruh pihak,” tambahnya.
Namun dari aspek teknis, Dasiran mengungkapkan bahwa hingga kini Blora belum memiliki roadmap agroindustri yang komprehensif. Karena itu, ia mengapresiasi momen pertemuan yang digagas JMSI sebagai langkah awal penyusunan peta jalan daerah berbasis potensi lokal.
“Roadmap-nya memang belum ada. Karena itu saya menyampaikan apresiasi kepada teman-teman JMSI yang hari ini memulai langkah penting bersama OPD untuk menyusun peta jalan agroindustri daerah,” ujarnya.
Pada penghujung kegiatan, ia menekankan perlunya kolaborasi seluruh elemen dari pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, hingga media untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan menjaga keberlanjutan pembangunan.
“Kondusivitas menjadi kunci untuk mendorong investasi, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutan program pembangunan,” pungkasnya. (Rengga)
