Siswa MTs di Jombang Mendadak Meninggal, Begini Penjelasan Polisi

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Petugas kepolisian saat mendatangi rumah GM siswa MTs yang mendadak meninggal. (Karimatul Maslahah/kabarterdepan.com) 
Petugas kepolisian saat mendatangi rumah GM siswa MTs yang mendadak meninggal. (Karimatul Maslahah/kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Seorang siswa MTs swasta kelas 7, Desa Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, meninggal dunia secara mendadak saat mengikuti pelajaran. Korban diketahui berinisial GM (12), warga Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno.

Kapolsek Jogoroto, AKP M Djulan membenarkan adanya laporan siswa MTs yang meninggal mendadak tersebut, sebelumnya, GM berangkat dari rumah neneknya seperti biasa, meski pada hari itu ia memilih tidak membawa bekal makanan seperti rutinitasnya.

Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, teman-teman sekelas melihat GM tiba-tiba mengalami kejang ketika duduk di bangku kelas.

“Guru kemudian mengevakuasi korban ke ruang UKS dan segera menghubungi Puskesmas Jarakkulon,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).

Kondisi Sebelum Siswa MTs Meninggal Mendadak

Petugas medis datang dan melakukan pemeriksaan. Dari pengecekan, diketahui kondisi MG sudah sangat kritis.

“Mulut mengeluarkan banyak air liur, buang air tidak terkendali, nadi tidak teraba, pupil mata melebar dan tidak merespons, serta tekanan darah tidak terdeteksi. Petugas puskesmas kemudian menyatakan MG telah meninggal dunia,” kata dia.

Djulan menyebut, pihaknya langsung mendatangi sekolah begitu menerima informasi dari pihak madrasah.

“Kami menerima laporan. Petugas langsung menuju lokasi, namun saat kami tiba, sekolah sudah kosong. Kami kemudian mengecek ke Puskesmas dan mendapat informasi bahwa korban sudah dinyatakan meninggal ketika masih di sekolah,” jelasnya.

Setelah itu, polisi menuju rumah duka di Dusun Ngepung, Desa Selorejo. Namun ketika petugas tiba, korban sudah dimakamkan oleh keluarga.

Djulan, menambahkan, pihak keluarga telah membuat surat pernyataan resmi bahwa kejadian tersebut diterima sebagai musibah.

“Keluarga membuat pernyataan tertulis bahwa mereka ikhlas dan tidak akan menuntut pihak manapun. Pernyataan itu ditandatangani di atas materai dan diketahui oleh Kepala Desa Selorejo,” pungkas Djulan. (Karimatul Maslahah)

Responsive Images

You cannot copy content of this page