
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Harapan orang tua Sherly untuk melihat anaknya bekerja di Cafe Lawu 33 menjadi kenyataan, sebuah kisah yang menarik dan memberi inspirasi bagi banyak keluarga di Indonesia.
Cafe Lawu dikenal sebagai kafe pertama di Indonesia yang menghadirkan nuansa inklusif dengan memperkerjakan anak disabilitas.
Cafe Lawu 33 Berdayakan Kaum Difabel
Usaha ini berlokasi di Wates Gang dan menjadi ruang yang memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang sekaligus berinteraksi dengan masyarakat.
Kafe ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 20.30 WIB. Ferry Gunawan selaku pemilik usaha menjelaskan alasan yang mendorong dirinya membangun ruang kerja yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus.
“Tujuan dari membuka kafe disabilitas ini merupakan langkah untuk memberikan kesempatan yang layak bagi anak disabilitas agar mereka memiliki ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang berkembang,” ujar Ferry.
Orang tua Sherly menyampaikan perasaan bangganya ketika mengetahui putrinya diterima untuk bekerja dan magang di Cafe Lawu. Mereka melihat kesempatan ini sebagai bentuk penghargaan terhadap kemampuan anak disabilitas.
“Saya bangga ketika anak saya diberi kesempatan untuk magang dan bekerja di Cafe Lawu ini. Meski memiliki keterbatasan, saya bersyukur karena di sini dibimbing oleh Ko Ferry dan pihak sekolah. Saya sangat antusias, yang penting anaknya juga senang bekerja atau magang di sini,” ujar orang tua Sherly.
Sherly merupakan anak disabilitas tuli yang memiliki semangat juang tinggi untuk meraih masa depannya. Ia menunjukkan komitmen belajar yang kuat meskipun memiliki kekurangan, dan semangat itulah yang membuatnya semakin percaya diri menjalani pekerjaannya.
Tantangan utama yang dihadapi Sherly selama bekerja adalah komunikasi, terutama karena masih baru dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kafe.
“Tantangan yang dihadapi itu hanya komunikasi. Di Cafe Lawu kendalanya masih baru dan kendala di komunikasi,” ujar orang tua Sherly.
Orang tua Sherly juga memiliki harapan besar terhadap masa depan putrinya. Mereka berharap pengalaman bekerja di kafe ini menjadi landasan keterampilan bagi Sherly untuk dapat hidup mandiri dan terus berkembang.
“Nanti ke depannya punya kemampuan di tata boga, meracik minuman, dan melayani pelanggan. Itu yang saya harapkan agar bisa menjadi ilmu bekerja secara mandiri,” ujar mereka.
Kisah Sherly menggambarkan bahwa kesempatan yang tepat dapat membuka banyak pintu bagi anak disabilitas. Melalui dukungan keluarga, lingkungan belajar, dan pelaku usaha yang peduli, masa depan mereka dapat tumbuh dengan lebih cerah dan penuh harapan. (Innka)
