
Sampang, kabarterdepan.com — Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa seorang siswi SMK di Sampang saat menjalani program magang di Bank Jatim Cabang Sampang menuai sorotan publik.
Ketua Kopri PMII Sampang, Juhairiyah, menyesalkan jika penyelesaian kasus tersebut ditempuh melalui jalur kekeluargaan. Menurutnya, langkah seperti itu justru berpotensi membuka celah bagi kasus serupa terulang di kemudian hari.
“Saya sering mengawal kasus sejak 2020. Untuk kekerasan seksual, sekecil apa pun perbuatannya tidak boleh diberi keringanan, apalagi yang terjadi pada siswi SMK,” tegas Juhairiyah kepada Kabarterdepan.com, Rabu (12/11/2025) malam.
Juhairiyah menilai, meskipun tindakan pelaku hanya berupa ucapan, hal itu tetap tidak bisa ditoleransi.
“Meskipun kategorinya hanya ucapan, itu hal kecil yang bisa berdampak besar. Kalau dimaafkan, bisa saja nanti terjadi lagi hal-hal yang lebih parah,” ujarnya.
Juhairiyah menekankan bahwa kekerasan seksual, dalam bentuk apa pun, tidak boleh dianggap sepele dan harus diselesaikan sesuai hukum.
“Kasus seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Harus ada penegakan hukum agar pelaku jera dan tidak menimbulkan korban lain,” tambahnya.
Tim kabarterdepan.com kemudian mendatangi sekolah tempat korban menempuh pendidikan untuk mengonfirmasi langkah yang diambil pihak sekolah.
Humas sekolah menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya melakukan pencegahan sejak awal dengan memberikan pembekalan kepada siswa sebelum menjalani program magang di dunia industri.
“Kami sudah melakukan tindakan pencegahan berupa pembekalan sebelum siswa-siswi kami dilepas untuk magang di perusahaan yang bekerja sama dengan sekolah,” ujarnya saat ditemui tim Kabarterdepan.com, Kamis (13/11/2025)
“Mulai dari harus melakukan apa dan bagaimana mengatasinya sudah kami jelaskan atau bekali ke siswa-siswi kami,” lanjutnya.
Meski demikian, pihak sekolah kini berfokus pada proses pemulihan korban.
“Kami berfokus pada siswi kami. Kami melakukan pendampingan dari bimbingan konseling mulai dari mental hingga psikologi siswi kami,” ungkapnya.
Humas juga menegaskan bahwa proses hukum tengah berjalan di Polres Sampang, sementara pihak sekolah mendukung melalui pendampingan internal.
“Karena kasus sudah bergulir ke Polres, otomatis kami hanya berfokus pada siswi kami. Orang tua mereka juga sudah memiliki pengacara dalam penanganan kasus tersebut,” jelasnya.
Kerja Sama Sekolah dengan Bank Jatim
Menariknya, pihak sekolah mengaku kerja sama dengan Bank Jatim masih akan tetap berjalan.
“Untuk kerja sama dengan Bank Jatim tetap berjalan karena MoU kami hanya sebatas kerja sama pelatihan lapangan,” terang Humas sekolah.
Sebagai bentuk antisipasi ke depan, pihak sekolah akan memperkuat edukasi dan pengawasan terhadap siswa-siswi yang akan mengikuti magang.
“Tindakan pencegahan ke depan tetap sama, kami bekali siswa-siswi kami agar lebih waspada, tidak berduaan, dan menjaga batas saat di tempat magang,” ujarnya menegaskan.
Saat tim Kabarterdepan.com mencoba meminta klarifikasi dari pihak Bank Jatim Cabang Sampang, tidak ada satu pun pejabat yang dapat ditemui.
Seorang pegawai menyebut Kepala Cabang Bank Jatim, Erny Dewi S., sedang mendampingi kunjungan dari pihak Bank Jatim Pusat ke Pendopo Bupati Sampang.
Tim kemudian mendatangi pendopo dan berhasil bertemu dengan salah satu staf bagian umum Bank Jatim, Temmy.
“Untuk konfirmasi terkait kasus ini, mohon waktu hingga hari Senin. Nanti pihak Bank Jatim akan memberikan penjelasan resmi,” ujar Temmy singkat. (Fais)
