
Jombang, Kabarterdepan.com – Siapa sangka, warga di lereng Gunung Anjasmoro punya cara cerdas untuk menghemat pengeluaran pupuk hingga 80 persen. Sunoto (51), warga Dusun Notorejo, Desa/Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur yang berhasil mengolah kotoran hewan ternak menjadi pupuk bokashi yang tak ternilai.
Sudah beberapa tahun ini, Sunoto tak lagi bergantung pada pupuk kimia untuk lahan pertaniannya. Ia memanfaatkan kotoran kambing dan cairan mikroorganisme EM4 hasil olahan sendiri. Cara ini membuat biaya produksi pertanian jauh lebih hemat dan ramah lingkungan.
“Prosesnya sederhana, tapi memang harus telaten,” ujar Sunoto saat ditemui, Senin (10/11/2025).
Kotoran kambing terlebih dahulu digiling menggunakan alat bernama apo, bantuan dari Dinas Peternakan Jombang. Setelah itu, bahan dicampur dengan EM4 buatan lokal. Menariknya, EM4 yang digunakan bukan dari pabrikan, melainkan berasal dari rumen kambing, yaitu bagian jeroan yang mengandung banyak mikroorganisme pengurai alami.
“Kami sudah tidak beli lagi, cukup memperbanyak dari rumen ternak yang ada,” tutur Sunoto.
Warga Fermentasi Pupuk
Proses fermentasi dilakukan selama tiga bulan menggunakan terpal sebagai penutup. Setiap minggu, bahan diaduk dan disiram kembali dengan cairan mikroba agar proses penguraian berjalan maksimal.
“Kalau buru-buru, satu bulan sudah bisa dipakai, tapi hasil terbaik kalau tiga bulan,” jelasnya.
Dari 17 ekor kambing PE (Peranakan Etawa) yang dipelihara, Sunoto mampu menghasilkan sekitar tiga ton pupuk bokashi tiap kali produksi. Meski hasilnya melimpah, pupuk ini belum dijual ke pasaran karena masih digunakan untuk kebutuhan sendiri. “Sementara masih untuk keperluan pribadi, malah sering kurang,” ujarnya tertawa.
Menurut Sunoto, hampir semua jenis kotoran ternak bisa diolah menjadi bokashi, baik dari kambing, sapi, maupun domba. Hanya saja, tiap jenis perlu perlakuan berbeda. “Kalau kotoran sapi lebih basah, tapi tetap bisa diolah dengan proses yang sama,” katanya.
Bagi Sunoto, penggunaan pupuk bokashi bukan hanya soal efisiensi, tapi juga kualitas hasil tanam. Ia mengaku tanah di kebunnya kini lebih gembur dan subur.
“Awalnya cuma coba-coba, tapi hasilnya bagus. Tanaman jadi cepat tumbuh dan tidak mudah terserang hama,” ungkapnya.
Selain memperbaiki struktur tanah, bokashi juga menambah unsur hara dan menekan penggunaan pupuk kimia. “Tanah jadi lebih sehat, tidak keras seperti kalau sering pakai pupuk kimia. Panennya juga lebih bagus,” tambahnya. (Karimatul Maslahah)
